Imam Empat Mazhab
Tinggalkan Pendapat Kami bila Bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah !
Di dalam kitab beliau Shifat Shalatin Nabi, Asy-Syaikh Al-Albani pernah menukilkan kisah sekumpulan pemuda Jepang yang ingin masuk Islam. Mendengar keinginan para pemuda ini, berbagai perkumpulan Islam pun menyodorkan mazhab-mazhab yang mereka anut. Sekelompok muslim dari India mengatakan kepadanya, “Bermazhablah dengan mazhab Imam Abu Hanifah, karena dia adalah pelita umat ini.” Sebaliknya sekelompok muslimin dari Jawa-Indonesia mengatakan, “Wajib baginya untuk menjadi seorang Syafi’i.”
Ketika orang-orang Jepang itu mendengar perselisihan ini, mereka pun menjadi bingung dan tidak paham apa yang mereka maksud. Maka lihatlah betapa permasalahan mazhab ini bisa menjadi penghalang seseorang untuk masuk ke dalam Islam.
Berseberangan dengan dua kelompok fanatik dalam kisah di atas, para imam mazhab tidaklah menganjurkan murid-muridnya dan segenap kaum muslimin untuk taqlid buta kepada mereka. Bahkan mereka berpesan agar umat ini kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang shahih.
Masih di dalam muqaddimah Kitab Shifat Shalat Nabi, Asy-Syaikh Al-Albani pun menukilkan ucapan-ucapan para Imam Mazhab yang empat yang seolah-olah berkata dengan satu suara, “Jangan fanatik kepada kami, ikutilah sunnah, tinggalkan ucapan kami bila bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam …”
Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,
1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)
2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”
3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah swt dan kabar Rasulullah saw, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)
Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,
1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)
2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi saw.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)
3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Saw menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)
Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,
1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah saw itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)
2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah saw, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)
3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah saw, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah saw, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)
4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)
5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)
6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah saw menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)
7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)
8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Saw terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)
9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi saw maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)
Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)
Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,
1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)
2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)
3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah saw, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).
Demikianlah ucapan para Imam Mazhab. Masihkah Anda taqlid buta kepada mereka, atau taqlid kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?
Mengenal Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab)
Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, yaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.
Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Nama yang sebenarnya ialah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Hanafi.
Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab:
1. Kerana ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah.
2. Karena semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Itulah sebabnya ia masyhur dengan gelaran Abu Hanifah.
3. Menurut bahasa Persia, Hanifah berarti tinta. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadits-hadits, ke mana, ia pergi selalu membawa tinta. Karena itu ia dinamakan Abu Hanifah.
Waktu ia dilahirkan, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi, beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadits. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.
Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keridhaan Allah SWT. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau.
Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar, karena menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya, melainkan semuanya, termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut
Sebahagian dilukiskan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bahwa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Kalau kumpulan jahat ini mau merusak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mau mencegahnya, maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mau mencegah perbuatan orang-orang yang mau membuat kerusakan di atas bahtera itu, maka semuanya akan selamat.
Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Ia menolak pangkat dan menolak uang yang diberikan kepadanya. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara ia disiksa, dipukul dan sebagainya.
Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal), tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Ia tidak mau menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.
Pada waktu yang lain Gubernur Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah, karena itu timbul rasa curiganya. Oleh karena itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.
Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq, dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi kedudukan resmi oleh Gubernur.
Ketika itu gubernur menetapkan Imam Hanafi menjadi Pengetua jawatan Sekertaris gubernur. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk uang negara. Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu nescaya ia akan dihukum dengan pukulan.”
Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Hanafi tetap menolak jawatan itu, bahkan ia tetap tegas, bahwa ia tidak mau menjadi pegawai kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara.
Karena sikapnya itu, akhirnya ditangkap oleh gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, dengan tidak dipukul. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan. Beberapa hari sesudah itu gubernur menawarkan menjadi kadi, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.
Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Hanafi. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi disiksa ia sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun, Kepala negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Imam Hanafi juga menerima ujian. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara, dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah, Kepala Negaranya bernama Abu Abbas as Saffah.
Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan Kepala Negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur, saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.
Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad, supaya ia datang mengadap ke istana. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu ?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.”
Karena ia masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Karena sikap Imam Hanafi itu, Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa.
Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al Mansur, tetapi ia tetap menolak. Baginda bertanya, “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini ?”
Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin.
Wahai Amirul Mukminin, takutlah kepada Allah, janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang, maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah, sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu.”
Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta, kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin, sungguh baginda telah menetapkan sendiri, jika saya benar, saya telah menyatakan bahawa saya tidak patut memegang jawatan itu. Jika saya berdusta, maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.”
Pernah juga terjadi, baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. Setelah mereka hadir di istana, maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan, masing-masing diberi surat pelantikan tersebut.
Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah, lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota. Adapun Imam Hanafi tidak mau menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahwa siapa saja yang tidak mau menerima jawatan itu akan didera sebanyak l00 kali deraan.
Imam Syarik menerima jawatan itu, tetapi Imam Sufyan tidak mau menerimanya, kemudian ia melarikan diri ke Yaman. Imam Abu Hanifah juga tidak mau menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri.
Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat.
Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk mengadapnya. Setelah tiba di depan baginda, lalu diberinya segelas air yang berisi racun. Ia dipaksa meminumnya. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun.
Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah karena beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka, dan akhirnya mereka siksa hingga meninggal, karena Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan.
Biografi Imam Mazhab Empat
Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi`iy dan Imam Ahmad bin Hanbal.IMAM ABU HANIFAH
Riwayat HidupImam Abu Hanifah
Nama beliau ialah An-Nu`man bin Sabit bin Zuta At-Taymiy Beliau dilahirkan di Kufah pada tahun 80H/699M. Beliau merupakan seorang tabi`in. Abu Hanifah ialah mawla kepada Bani Taymu Llah bin Sa`labah
Beliau berketurunan Farsi dan ayahnya seorang peniaga kain. Beliau dikenali dengan nama Abu Hanifah karena salah seorang anaknya bernama Hanifah.
Imam Abu Hanifah ialah seorang yang kacak, wajahnya tampan, baik janggutnya dan bagus pakaiannya. Beliau seorang yang tidak begitu rendah dan tidak begitu tinggi.
Beliau banyak memakai minyak `atar dan dikenali dengan bau yang wangi apabila dia datang dan apabila dia keluar daripada rumahnya sebelum dia dilihat orang.
Beliau dibesarkan di kota Kufah dengan kehidupan yang senang dan mewah. Sejak kecil beliau sudah terdidik dalam urusan perniagaan dan mendapat kemudahan untuk menuntut ilmu. Ini menjadikannya seorang saudagar yang berpengetahuan tinggi dan berpegang teguh dengan hukum Allah. Beliau seorang yang berakhlaq mulia, pemurah, ikhlas, berani, suka memberi nasihat, rajin berusaha dan bercita-cita tinggi. Beliau sering bangun malam untuk mengerjakan shalat malam dan membaca Al-Qur’an.
Imam Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 150H/767M ketika berusia 70 tahun.
Pendidikan
Imam Abu Hanifah mendapat banyak peluang menuntut ilmu sejak kecil sehingga ke peringkat yang paling tinggi. Beliau mempelajari pelbagai ilmu terutama ilmu undang-undang Islam. Selain daripada menjadi seorang ilmuwan, beliau juga seorang ahli perniagaan. Penglibatannya dalam perniagaan dan kemantapan ilmu agama membolehkan beliau mengeluarkan pendapat tentang hukum Islam dan mempraktikkannya. Beliau coba untuk memperluaskan pelaksanaan hukum-hukum Islam dalam setiap bidang kehidupan.
Imam Abu Hanifah berguru dengan beberapa orang `ulama’ yang hidup sezaman dengannya. Guru fiqh yang banyak memberi sumbangan kepada dirinya ialah Imam Hammad bin Abi Sulayman selama 18 tahun. Selain berguru dengan para tabi`in, beliau juga menemuï beberapa orang sahabat Nabi, antaranya Anas bin Malik, `Abdu Llah bin Abi Awfa, `Abdu Llah bin Al-Hasan, Zayd bin `Aliy, `Abdu Llah bin Al-Haris bin Juz’, dan Ma`qal bin Yasar, Abu t-Tufayl `Amir bin Wasilah.
Imam Abu Hanifah mempunyaï ramai murid yang masyhur seperti Abu Yusuf, Asad bin `Amr, Al-Qasim bin Ma`n, Zafr bin Al-Huzayl, Al-Walid bin Aban, Abu Bakr Al-Hazliy, Ya`qub bin Ibrahim Al-Ansariy Al-Kufiy, Muhammad bin Al-Hasan bin Asy-Syaybaniy dan Al-Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu’iy Al-Kufiy.
Sumbangan kepada tamaddun Islam
1- Kebanyakan masanya digunakan untuk mengajar di masjid.
2- Berfikiran secara kritis dan terbuka dalam menyelesaikan masalah fiqh.
3- `Ulama’ pertama yang menyusun kitab fiqh mengikut bab dan fasl dengan baik dan tersusun.
4- Seorang yang amat teliti dalam menentukan hukum mengikut martabat hadis.
5- Menyusun cara mengeluarkan hukum berdasarkan kepada kaedah-kaedah tertentu.
6- Antara kitab yang ditulis oleh beliau ialah Al-Fiqhu l-Akbar dan Kitabu l-Fara’idh.
7- Beliau juga seorang yang amat teliti terhadap hadis. Beliau hanya menerima hadis yang sahih dan
kuat sanadnya.
Pengaruh Mazhab Abu Hanifah
Aliran mazhab Imam Abu Hanifah dikenali dengan nama Mazhab Hanafiy. Sejak ia muncul, ia tersebar luas dan begitu berpengaruh di Iraq. Mazhab Hanafiy ialah mazhab rasmi Dawlah `Usmaniyyah, dan masih berpengaruh di negara-negara bekas jajahan Dawlah `Usmaniyyah seperti Mesir, Syria, Lubnan, Bosnia dan Turki.
IMAM MALIK
Riwayat HidupImam Malik
Nama beliau ialah Malik bin Anas bin Abi `Amir bin `Amr bin Al-Haris . Beliau digelar Syaykhu l-Islam, Hujjatu l-Ummah, dan Imam Daru l-Hijrah. Kunyahnya ialah Abu `Abdi Llah. Ibunya bernama Aliyah binti Syarik Al-Azdiyyah. Beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 93H/713M, yaitu pada tahun kematian Anas khadam Rasulu Llah.
Datuknya yang pertama, yaitu Malik bin `Amir adalah golongan `ulama’ tabi`in yang
terkemuka. Moyangnya, `Amir bin Al-Haris adalah seorang sahabat dan pernah
berperang bersama-sama dengan Nabi Muhammad.
Sejak kecil, beliau dididik agar menghormati ibu bapak, orang dewasa dan guru. Beliau
merupakan seorang yang berbadan tegap, kuat serta suka berpakaian cantik dan bersih.
Beliau mempunyaï pandangan yang bernas, mempunyaï pendirian yang teguh, bijaksana
dan kuat ingatan. Beliau juga seorang yang berbudi bahasa, lemah lembut, suka menziarahi orang sakit dan mengiringi jenazah. Beliau banyak membantu mereka yang mempunyaï hajat dan tidak suka mencela orang lain. Beliau ialah seorang yang tawadhdhu` dan tidak pernah menunggang kudanya di Madinah karena menghormati bumi yang di dalamnya terdapat jasad Rasulullah.
Imam Malik meninggal dunia pada pagi hari Ahad dalam bulan Rabi`u l-Awwal tahun
179H/ 789M ketika berusia 89 tahun dan dimakamkan di perkuburan Baqi`, Madinah.
Pendidikan
Imam Malik seorang yang banyak mendampingi `ulama’ Madinah sejak kecil. Ingatannya sangat kuat sehingga dapat menghafaz Al-Qur’an dan Hadis sejak kecil. Beliau merupakan seorang Imam dalam hadis dan riwayatnya dipercayaï. Beliau berguru dengan lebih daripada 900 orang guru daripada kalangan tabi`in dan tabi` tabi`in.
Gurunya yang pertama ialah Imam `Abdu r-Rahman bin Hamzah. Beliau pernah mempelajari ilmu hadis daripada Ibnu Syihab Az-Zuhriy dan ilmu ar-ra’y daripada Rabi`ah bin `Abdu r-Rahman.
Imam Malik mula mengajar ketika berusia 17 tahun di Masjid An-Nabawiy. Kuliahnya turut dihadiri oleh gurunya sendiri, antaranya Muhammad Muslim bin Az-Zuhriy. Ajaran Imam Malik mendapat perhatian dan tersebar di Hijaz, Maghribi dan Andalus, Algeria, Tunisia, Libya, Sudah, Bahrain, Kuwait, Mesir dan lain-lain.
Imam Malik dianggap sebagai tokoh terkemuka dalam ilmu hadis dan fiqh. Adalah diakuï bahawa antara hadis yang paling sahih ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik daripada Ibni `Umar dan Az-Zuhriy. Apabila ditanya tentang ilmu hadis, Imam Malik tidak terus keluar menjawab sehingga beliau mandi dan memakai pakaian yang bersih serta bau-bauan, sebagai penghormatan beliau kepada hadis Nabi saw.
Guru-Gurunya
1- Ayyub bin Abi Tamimah As-Sikhtiyaniy
2- Ja`far bin Muhammad As-Sadiq
3- Humayd At-Tawil
4- Dawud bin Al-Husayn
5- Zayd bin Aslam
6- Salim Abu n-Nadhr
7- Sa`id bin Abi Sa`id Al-Maqburiy
8- Abi Hazim Salmah bin Dinar Al-Madaniy
9- Suhayl bin Abi Salih
10- `Amir bin `Abdi Llah bin Az-Zubayr
11- `Abdu Llah bin Dinar
12- `Amr bin Yahya bin `Ammarah Al-Maziniy
13- Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhriy
14-Nafi` Mawla Ibnu `Umar
15-Hisyam bin `Urwah
16-Yahya bin Sa`id Al-Ansariy
Murid-Muridnya
1- Ahmad bin Abi Bakr Az-Zuhriy
2- Isma`il bin `Ulayyah
3- Juwayriyah bin Asma’
4- Sa`id bin Mansur
5- Syu`bah bin Al-Hajjaj
6- `Abdu Llah bin `Abdu l-Wahhab Al-Hajabiy
7- `Abdu l-A`la bin Hammad An-Narsiy
8- `Abdu r-Rahman bin `Amr Al-Awza`iy
9- Abu Nu`aym Al-Fadhl bin Dakin
10-Muhammad bin Idris Asy-Syafi`iy
11-Ma`n bin `Isa Al-Qazzaz
12-Yahya bin Sa`id Al-Qattan
13-Yahya bin `Abdi Llah bin Bukayr
14-Yahya bin Yahya Al-Andalusiy
15-Yahya bin Yahya An-Naysaburiy
16-Abu `Amir Al-`Aqdiy
17-Abu `Aliy Al-Hanafiy
Sumbangan
Sumbangan terbesar Imam Malik ialah kitabnya Al-Muwatta’ ( الموطأ ). Kitab-kitab lain:
1- Risalatun Fi l-Qadr (لقدر ا في رسالة )
IMAM ASY-SYAFI`IY
Riwayat HidupImam Asy-Syafi’iy
Nama beliau ialah Muhammad bin Idris bin Al-`Abbas bin `Usman bin Syafi` bin As-
Sa’ib dan nasabnya sampai kepada `Abdu Manaf datuk Nabi. Gelaran Asy-Syafi`iy adalah sempena nama datuknya Syafi` bin As-Sa’ib. Beliau dilahirkan di Ghazzah1 pada tahun 150H/767M pada tahun kematian Imam Abu Hanifah An-Nu`man bin Sabit2. Ibu bapanya berasal dari Makkah
dan mereka menziarahi Palestin ketika Asy-Syafi`iy masih dalam kandungan. Ayahnya meninggal dunia dan kemudian Asy-Syafi`iy pun dilahirkan. Setelah berusia dua tahun, mereka kembali semula ke Makkah dan menetap di Sya`bu l-Hayf.
Beliau seorang yang kuat ingatan, terang hati, rajin serta mempunyaï peribadi yang sangat tinggi. Ibunya Fatimah binti `Abdi Llah bin Hasan bin `Ali bin Abi Talib. Beliau meninggal dunia pada 29 Rajab tahun 204H/820M di Mesir.
Pendidikan
Imam Asy-Syafi`iy mula-mula belajar Al-Qur’an ketika berusia lima tahun dan telah menghafaz Al-Qur’an ketika berusia tujuh tahun. Imam Asy-Syafi`iy mempunyaï ingatan yang kuat, berkebolehan tinggi, dan dapat menghafal semua pelajaran yang diajar.
Apabila gurunya tidak dapat mengajar kerana sesuatu urusan, beliau diamanahkan mengambil tempat gurunya untuk mengajar murid-murid. Imam Asy-Syafi`iy menguasaï ilmu Al-Qur’an, hadis, bahasa `Arab dan lahjahnya, serta mahir dalam penulisan dan sya`ir. Beliau belajar hadis daripada Sufyan bin `Uyaynah, Muslim bin Khalid Az-Zanjiy Al-Makkiy, Sa`id bin Salam Al-Qaddah, Dawud bin `Abdi r-Rahman Al-`Attar, dan `Abdu l-Majid bin `Abdi l-`Aziz.
Beliau belajar ilmu Al-Qur’an daripada Isma`il bin Qistantin.
1. Juga dikatakan Imam Asy-Syafi`iy dilahirkan di `Asqalan, juga dikatakan di Mina, juga
dikatakan di Yaman.
2. Juga dikatakan pada hari kematian Imam Abu Hanifah.
3. Gurunya ini telah membenarkan Imam Asy-Syafi`iy untuk mengeluarkan fatwa ketika
umurnya 15 tahun.
Di Madinah, Imam Asy-Syafi`iy belajar daripada Imam Malik bin Anas, Ibrahim bin Abi Yahya As-Samiy, Muhammad bin Sa`id bin Abi Fudayl dan `Abdu Llah bin Nafi` As-Sani`. Imam Asy-Syafi`iy menghafaz kitab Al-Muwatta’ Imam Malik ketika berusia 10 tahun semasa beliau di Makkah dan belum lagi berjumpa dengan Imam Malik.
Imam Asy-Syafi`iy telah datang ke Iraq pada tahun 195H dan tinggal di sana selama dua tahun. Para `ulama’ di sana telah belajar dengannya dan ramai antara mereka telah bertukar kepada mazhab Asy-Syafi`iy daripada mazhab asal mereka. Kemudian Asy- Syafi`iy telah kembali ke Makkah dan kemudian kembali ke Baghdad pada tahun 198H dan tinggal di sana selama sebulan. Kemudian Asy-Syafi`iy telah pergi ke Mesir sehingga dia wafat. Asy-Syafi`iy wafat pada hari Jum`at di penghujung bulan Rajab tahun 204H dan dikebumikan di Al-Qarafah selepas `Asar.
Sumbangan
1- Mengasaskan kaedah-kaedah tertentu dalam mensabitkan hukum seperti menggunakan hadis yang
sahih untuk mengistinbatkan hukum tanpa melihat statusnya.
2- Tidak menerima kaedah istihsan.
3- Mempersempitkan penggunaan akal dalam mensabitkan sesuatu hukum.
4- Berijtihad mengikut tempat dan suasana.
5- Berhujah dengan golongan anti hadis, disebut dalam kitab Ar-Risalah.
6- Sangat teliti dalam mengutarakan pandangan khususnya dalam masalah `ibadah.
7- Antara karangan beliau ialah Ar-Risalah, Al-Umm, Ikhtilafu l-Hadis, Al-Musnad
dan lain-lain.
8- Mazhabnya diikuti di Malaysia, Indonesia, Brunai dan Thailand.
Murid-muridnya
Empat murid yang meriwayatkan daripadanya Mazhab al-Qadim ialah:
1- Al-Hasan Az-Za`faraniy dan dia ialah Al-Hasan bin Muhamamd bin Abu `Aliy Al-Baghdadiy
Az-Za`faraniy
2- Al-Imam Ahmad bin Hanbal, dan dia ialah Abu `Abdi Llah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
bin Hilal Asy-Syaybaniy
3- Abu Sawr Al-Kalbiy dan dia ialah Ibrahim bin Khalid bin Abi l-Yaman
4- Abu `Aliy Al-Karabisiy dan dia ialah Al-Husayn bin `Aliy bin Yazid Abu `Aliy Al-Baghdadiy Al-
Karabisiy
Enam murid yang meriwayatkan Mazhab Al-Jadid:
1- Abu Ya`qub Al-Buwaytiy dan dia ialah Yusuf bin Yahya Al-Qurasyiy Abu Ya`qub Al-Buwaytiy
Al-Misriy.
2- Harmalah dan dia ialah Harmalah bin Yahya bin `Abdi Llah bin Harmalah bin `Imran At-
Tujaybiy Abu Hafs Al-Misriy
3- Ar-Rabi` Al-Jayziy dan dia ialah Ar-Rabi` bin Sulayman bin Dawud Al-Jayziy Abu Muhammad
Al-Azdiy
4- Al-Maziniy dan dia ialah Isma`il bin Yahya bin Isma`il bin `Amr bin IshaqAbu Ibrahim Al-
Maziniy Al-Misriy.
5- Yunus bin `Abdu l-A`la dan dia ialah Yunus bin `Abdu l-A`la bin Maysarah bin Hafs bin Hayyan
As-Sadafiy Abu Musa Al-Misriy
6- Ar-Rabi` Al-Muradiy dan dia ialah Ar-Rabi` bin Sulayman bin `Abdu l-Jabbar bin Kamil
Al- Muradiy
IMAM AHMAD BIN HANBAL
Riwayat HidupImam Ahmad Bin Hanbal ( Imam Hambali)
Namanya ialah Abu `Abdi Llah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin `Abdi Llah bin Hayyan bin `Abdi llah bin Anas bin `Awf bin Qasit bin Mazin Ibnu Syayban bin Zahl bin Sa`labah bin `Ukabah bin Su`b, bin `Aliy bin Bakv Wa’il bin Qasit bin Wahb bin Afsiy Asy-Syaybaniy Al-Muruziy Az-Zahliy Al-Baghdadiy
Nasab Imam Ahmad kembali kepada Bani Syayban dan ia ialah suatu qabilah daripada Bani Rabi`ah `Adnaniyyah yang bertemu nasabnya dengan Nabi pada Nizar bin Ma`d bin `Adnan.
Beliau dilahirkan di Baghdad, Iraq pada bulan Rabi`u l-Awwal tahun 164H/780M. Bapaknya
meninggal dunia ketika beliau masih berusia tiga tahun. Ibunya bernama Safiyyah binti
Maymunah binti `Abdu l-Malik Asy-Syaybaniy dari Bani `Amir
Imam Ahmad adalah seorang yang miskin. Beliau terpaksa mengambil upah menjual kain dan membawa barang-barang di jalan untuk menyara hidup. Beliau sangat mementingkan pendapatan yang halal, justeru beliau tidak menerima hadiah atau pemberian tanpa membuat kerja. Beliau sangat mementingkan kebersihan dan kekemasan.
Beliau seorang yang pendiam, suka berfikir dan tegas menentang kemunkaran. Beliau juga tidak sombong atau bongkak. Beliau mengasihi seseorang karena Allah. Beliau bergaul dengan faqir miskin dan selalu memberi bantuan kepada mereka. Imam Ahmad seorang yang bertaqwa dan baik hati, kurang makan dan minum, serta banyak melakukan `ibadah. Beliau banyak melakukan shalat malam setiap hari sehingga 300 raka`at. Apabila usianya berusia hampir 80 tahun, beliau hanya bersalat 150 raka`at.
Beliau khatam Al-Qur’an sekali dalam tujuh hari.
Beliau wafat pada tahun 231H/855M di Baghdad dalam usia 77 tahun.
Pendidikan
Imam Ahmad menunjukkan minat yang mendalam terhadap ilmu dan beliau rajin belajar.
Beliau sentiasa membawa alat tulis dan kertas untuk menulis. Imam Ahmad bin Hanbal
menghafal Al-Qur’an dan mempelajari bahasa `Arab. Beliau pergi mengembara ke beberapa buah negeri untuk belajar seperti Kufah, Basrah, Syam dan Yaman. Beliau mula belajar hadis ketika berumur 16 tahun.
Menurut Az-Zahabiy, bilangan guru Imam Ahmad yang dia meriwayatkan daripada
mereka dalam Al-Musnad ialah lebih 280 orang. Antara guru Imam Ahmad yang
masyhur ialah:
1- Al-Qadhi Abu Yusuf, dia ialah Ya`qub bin Ibrahim bin Habib Al-Ansariy Al-Kufiy Al-Baghdadiy
2- Hasyim bin Basyir, dia ialah Ibnu Abi Hazim Qasim bin Dinar As-Salmiy Abu Mu`awiyah Al-
Wasitiy
3- Mu`tamir bin Sulayman At-Taymiy, Abu Muhammad Al-Basriy
4- Jarir bin `Abdu l-Hamid bin Qurt
5- Muhammad bin Ja`far bin Ghundar Abu `Abdi Llah Al-Basriy Al-Hazliy
6- Isma`il bin Ibrahim Ibnu Muqsim Al-Asadiy Al-Basriy
7- Waki` bin Al-Jarrah Ibnu Malih Ar-Ru’asiy Abu Sufyan Al-Kufiy
8- Sufyan bin `Uyaynah Ibnu Maymun Al-Hilaliy Al-Kufiy Abu Muhammad
9- `Abdu r-Rahman bin Mahdiy Ibnu Hassan Al-`Anbariy Al-Basriy Al-Lu’lu’iy Abu Sa`id
10- Yahya bin Sa`id Ibnu Farrukh Al-Qattan At-Tamimiy Abu Sa`id
11-Yahya bin Adam Ibnu Sulayman Al-Kufiy Abu Zakariya
12- Imam Asy-Syafi`iy dan dia ialah Muhammad bin Idris bin Al-`Abbas bin `Usman bin Syafi` Al-
Hasyimiy Al-Qurasyiy al-Matlabiy
13-Yazid bin Harun Ibnu Zazan bin Sabit As-Sulamiy
14- `Abdu r-Razzaq As-Sun`aniy Ibnu Hammam bin Nafi` Al-Humayriy
15-Abu `Asim An-Nabil, dan dia ialah Adh-Dhahhak bin Mukhlid bin Adh-Dhahhak bin Muslim
Asy-Syaybaniy
16-Abu l-Mughirah `Abdu l-Quddus, dan dia ialah `Abdu l-Quddus bin Al-Hajjaj Al-Khulaniy Abu
l-Mughirah Al-Himsiy
17- `Aliy bin `Ayyasy Al-Alhaniy Al-Himsiy
18-Al-Fadhl bin Dakin, dan dia ialah `Amr bin Hammad At-Tamimiy
19- `Affan bin Muslim Ibnu `Abdi Llah As-Saffar Abu `Usman
20- Sulayman bin Harb Ibnu Bajil Al-Azdiy Abu Ayyub
Sumbangan
Kitab-kitab yang ditulis oleh Imam Ahmad:
1- Kitab Al-Irja’
2- As’ilatu `Ani r-Ruwati s-Siqati Wadh-Dhu`afa’
3- Al-Asma’ Al-Kuna
4- Al-Asyribatu s-Saghir
5- Al-Asyribatu l-Kabir
6- Kitabu l-Imamah
7- Ahlu l-Milalu War-Riddatu Waz-Zanadiqatu Watariku s-Salati Wal-Fara’idhi
8- Al-Iman
9- Bab Ahkamu n-Nisa’
10-At-Tarajjul
11-At-Tarikh
12-At-Tafsir
13- As-Salasu l-Ahadisu llati Rawaha Al-Imamu Ahmad `Ani n-Nabiy Fi l-Manam
14- Juz’u Intiqa’u l-Imamu Muhammad bin `Aliy bin Bahr bin Bariy
15- Juz’un Fihi Ahadisu `Ani sy-Syafi`iy
16- Jawabu l-Imamu Ahmad `An Su’alin Fi Khalqi l-Qur’an
17- Jawabatu l-Qur’an
18-Hadisu Syu`bah
19-Hadisu sy-Syuyukh
20-Ar-Raddu `Ala l-Jahmiyyah
21-Ar-Raddu `Ala z-Zanadiqah
22-Risalatun Ila Musaddad bin Musarhad
23-Az-Zuhd
24-Kitab As-Sunnatu s-Saghir
25-Kitab As-Sunnatu l-Kabir
26- Syi`run `Ani l-Mawti Wal-Yawmi l-Akhar
27-As-Salah
28- Ta`atu r-Rasul
29-Al-`Aqidah
30- `Ilalu l-Hadis
31- Fadha’ilu `Aliy
32-Kitab Al-Fara’idh
33- Fadha’ilu s-Sahabah
34- Fadha’ilu Ahlu l-Bayt
35-Mukhtasar Fi Usuli d-Din Was-Sunnah
36-Al-Masa’il
37-Al-Musnad
38-Al-Manasiku s-Saghir
39-Kitab Al-Manasiku l-Kabir
40-Kitab Al-Muqaddam Wal-Mu’akhkhar Fi Kitabi Llah
41-Kitab An-Nasikh Wal-Mansukh
42-Kitab Nafyu t-Tasybih
43-Kitab Al-War`u Wal-Iman
44-Kitab Al-Wuqufu Wal-Wasaya Antara `ulama’ yang terkenal yang menyebarkan mazhabnya ialah Abu Bakr bin Hani’, Abu Qasim Al-Kharqiy, Muwaffiqu d-Din bin Qudamah, Syamsu d-Din bin Qudamah Al-Maqdisiy, dan Taqiyyuddin Ahmad bin Taymiyyah. Mazhabnya tersebar ke Mesir, Iraq, Syria, Hijaz dan Najd.
Sejarah Kemunculan Mazhab
Maksud Perkataan “Mazhab” dan “Imam”
Sebelum ditinjau sejarah kemunculan mazhab-mazhab fiqh Islam, ada baiknya jika kita tinjau terlebih dahulu maksud perkataan “Mazhab” dan “Imam” itu sendiri.
Mazhab (مذهب) dari sudut bahasa bererti “jalan” atau “the way of”. Dalam Islam, istilah mazhab secara umumnya digunakan untuk dua tujuan: dari sudut akidah dan dari sudut fiqh.
Mazhab akidah ialah apa yang bersangkut-paut dengan soal keimanan, tauhid, qadar dan qada’, hal ghaib, kerasulan dan sebagainya. Antara contoh mazhab-mazhab akidah Islam ialah Mazhab Syi‘ah, Mazhab Khawarij, Mazhab Mu’tazilah dan Mazhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah. Setiap daripada kumpulan mazhab akidah ini mempunyai mazhab-mazhab fiqhnya yang tersendiri. Mazhab fiqh ialah apa yang berkaitan dengan soal hukum-hakam, halal-haram dan sebagainya. Contoh Mazhab fiqh bagi Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah ialah Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab al-Syafi‘e dan Mazhab Hanbali.
Mazhab fiqh pula, sebagaimana terang Huzaemah Tahido, berarti:
Jalan pikiran, fahaman dan pendapat yang ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menetapkan suatu hukum Islam dari sumber Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Ianya juga berarti sejumlah fatwa atau pendapat-pendapat seorang alim besar yang bergelar Imam dalam urusan agama, baik dalam masalah ibadah ataupun lainnya.
Contoh imam mazhab ialah Abu Hanifah, Malik bin Anas, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal. Pengertian mazhab ini kemudiannya beralih menjadi satu kumpulan ajaran fiqh Islam yang diikuti dan diterima oleh satu-satu kumpulan umat Islam dalam sesebuah wilayah atau negara. Ianya menjadi sumber rujukan dan pegangan yang diiktiraf sebagai ganti atau alternatif kepada ikutan, ijtihad dan analisa terhadap ajaran asli Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
Perkataan “Imam” dari sudut bahasa berarti “teladan” atau “pemimpin.” Dalam Islam, perkataan “Imam” memiliki beberapa maksud selari dengan konteks penggunaannya, yaitu:
1. Imam sebagai pemimpin shalat berjamaah.
2. Imam sebagai pemimpin atau ketua komuniti orang-orang Islam.
3. Imam sebagai tanda kelebihan kedudukan ilmunya, sehingga dijadikan sumber pembelajaran dan rujukan ilmu agama. Contohnya ialah Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas dan sebagainya. Walaupun mereka dijadikan sumber rujukan ilmu, autoriti mereka hanyalah terhad kepada apa yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
4. Imam sebagai wakil Allah dan pemimpin umat serta penentu zaman. Imam sebegini hanya khusus bagi Mazhab Syi‘ah. Imam-imam ini bukan saja dijadikan rujukan syari‘at tetapi juga memiliki autoriti dalam menetapkan sesuatu yang berkaitan dengan syari‘at tanpa terhad kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah.
Sejarah kemunculan mazhab-mazhab fiqh Islam
Mazhab-mazhab fiqh Islam yang empat yaitu Maliki, Hanafi, Shafi‘e dan Hanbali hanya muncul dan lahir secara jelas pada era pemerintahan Dinasti Abbasid, yaitu sejak kurun ke 2H/8M. Sejarah kemunculan dan perkembangannya boleh dilihat dalam 4 peringkat, yaitu:
1. Pada era Rasulullah saw dan para Khalifah Al-Rashidun yang empat.
2. Pada era Pemerintahan Dinasti Umayyad dan Abbasid di mana pada ketika inilah mazhab-mazhab Islam mula muncul dan berkembang.
3. Pada era kejatuhan Islam, iaitu mulai kurun ke 4H/10M di mana mazhab-mazhab Islam tidak lagi berperanan sebagai sumber ilmu kepada umat tetapi hanya tinggal sebagai sesuatu yang diikuti dan diterima secara mutlak.
4. Era kebangkitan semula Islam dan ilmu-ilmunya sama ada dalam konteks mazhab atau ijtihad ulama’ mutakhir.
Era Pertama
Era ini bermula sejak diutusnya Muhammad ibn Abdillah menjadi seorang Rasul Allah dan mengembangkan agama tauhid, yaitu Islam. Pada ketika ini sumber syari‘at adalah penurunan wahyu berupa Al-Qur’an al-Karim dan tunjuk ajar Rasulullah saw. Al-Qur’an diturunkan secara berperingkat-peringkat bertujuan memudahkan umat menerima dan belajar secara bertahap.
Kemudahan mereka mempelajari Islam disokong oleh kehadiran Rasulullah saw yang bertindak sebagai guru. Ini sebagaimana dikhabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala di dalam al-Qur’an:
(Sebagaimana) Kami mengutuskan kepada kamu seorang Rasul dari kalangan kamu (yaitu Muhammad), yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu, dan membersihkan kamu (dari amalan syirik dan maksiat), dan yang mengajarkan kamu kandungan Kitab (Al-Quran) serta Hikmah kebijaksanaan, dan mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui. [al-Baqarah 2:151]
Di samping itu sumber syari‘at kedua adalah juga merupakan pengajaran Rasulullah saw yang kini kita terima sebagai Hadis. Hadis beliau adalah juga merupakan wahyu Allah Subhanahu wa Ta‘ala, sebagaimana firman-Nya:
Dan dia tidak memperkatakan (sesuatu yang berhubung dengan agama Islam) menurut kemauan dan pendapatnya sendiri. Segala yang diperkatakannya itu (sama ada Al-Quran atau hadis) tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. [al-Najm 53:3-4]
Perbuatan Rasulullah saw dalam konteks keagamaan juga merupakan salah satu bentuk tunjuk ajar wahyu Allah swt, sebagaimana firman-Nya:
Aku tidak melakukan sesuatu melainkan menurut apa yang diwahyukan kepadaku. [al-Ahqaf 46:09]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bertindak sebagai seorang guru agama yang membetulkan apa-apa perbuatan umat pada ketika itu yang salah atau kurang baik walaupun beliau pada asalnya tidak ditanya akan hal tersebut. Contohnya ialah kisah yang diberitakan oleh seorang sahabat, Abu Hurairah radhiallahu ‘anh: Aku bertemu dengan Nabi saw di salah satu jalan di Madinah, sedangkan aku dalam keadaan berjunub. Maka aku menyelinap yaitu mengelakkan diri dari bertemu dengan Rasulullah dan pergi untuk mandi sehingga Rasulullah mencari-cari aku.
Ketika aku datang kembali, baginda pun bertanya: “Ke mana kamu pergi wahai Abu Hurairah ?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah! Engkau ingin menemuiku sedangkan aku dalam keadaan berjunub. Aku merasa tidak selesa duduk bersama kamu sebelum aku mandi.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Maha Suci Allah! Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.”
Daripada keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahawa sumber syari‘at atau fiqh Islam pada era pertama ini hanyalah apa yang bersumber daripada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yakni ajaran, perbuatan dan persetujuan beliau. Pada ketika ini fiqh Islam mudah dipelajari dan sebarang kemusykilan mudah terjawab dengan hadirnya seorang Rasul yang mengajar terus berdasarkan wahyu Allah swt.
Selepas kewafatan Rasulullah saw pada tahun 10H/622M, para Khalifah al-Rashidun yaitu Abu Bakar al-Siddiq, Umar bin al-Khaththab, ‘Utsman bin ‘Affan dan ‘Ali bin Abi Thalib ra mengambil-alih sebagai pemimpin agama dan negara. Islam dan segala ajaran syari‘atnya telahpun lengkap dengan kewafatan Rasulullah saw. Para Khalifah meneruskan tradisi pimpinan dan pengajaran Islam sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw, yaitu berlandaskan kepada ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya wujud satu perbedaan yang besar pada ketika ini, yaitu wahyu tidak lagi diturunkan.
Dalam era empat khalifah ini, sempadan-sempadan Islam sudah mula meluas ke arah wilayah-wilayah yang baru. Dengan pembukaan ini, para khalifah Islam sekali-sekala terpaksa berhadapan dengan persoalan-persoalan yang belum pernah dihadapi sebelum ini yang melibatkan hal-hal muamalah seperti ekonomi, harta, tanah dan sebagainya. Bagi mencari jalan penyelesaiannya, para khalifah akan duduk berbicara dengan para sahabat (Shura) bagi memperoleh satu jawaban mayoriti yang paling dekat dengan ketentuan al-Qur’an dan al-Sunnah.
Ibn Hazm (456H) rahimahullah meriwayatkan dari Maimun bin Mehram, kata beliau:
Abu Bakar al-Siddiq, apabila datang orang-orang yang berperkara kepadanya, beliau akan mencari hukumnya dalam Kitabullah (al-Qur’an), maka beliaupun memutuskan perkara itu dengan ketetapan al-Qur’an. Jika tidak ada dalam al-Qur’an dan beliau mengetahui sunnah Rasulullah dalam perkara itu, maka beliaupun memutuskan perkara itu dengan ia. Jika tidak ada sunnah pada perkara itu, beliaupun akan bertanya kepada para sahabat.
Abu Bakar akan berkata: “Telah datang kepadaku suatu perkara, maka adakah kalian mengetahui hukum yang Rasulullah berikan terhadapnya ?” Kadang-kadang berkumpullah beberapa orang sahabat di hadapannya memberitahu apa yang pernah diputuskan oleh Rasulullah saw.
Dan jika Abu Bakar masih tidak menemui sesuatu sunnah Rasulullah dari orang-orang yang ditanyakan itu, maka beliau akan mengumpulkan tokoh-tokoh sahabat dalam majlis Shura lalu bertanyakan pendapat mereka. Dan jika pendapat mereka bersatu atas yang satu (semua setuju) yaitu ijma’ , maka beliaupun akan memutuskan atas ketentuan hasil ijma’ itu.
Dan Umar al-Khaththab berbuat demikian juga.
Pada ketika ini, para sahabat kebanyakannya masih berada di sekitar Kota Madinah. Oleh itu tidaklah menjadi kesukaran untuk berbincang sesama mereka. Faktor ini memudahkan fiqh Islam berjalan dengan lancar dan selari tanpa wujud apa-apa mazhab atau jalan pandangan yang lain. Suasana fiqh Islam berada dalam keadaan yang tulen, penuh keseragaman dan bersatu sebagaimana yang wujud sebelum ini hasil kefahaman dan konsep saling bertolak ansur yang wujud di kalangan para sahabat dan pemimpin mereka.
Dalam era ini, tidak wujud sebarang mazhab melainkan apa yang disyari‘atkan oleh Al-Qur’an, diajar oleh Rasulullah saw dan ijma’ para Khalifah serta sahabat ra.
Era Kedua
Mulai tahun 41H/661M, setelah berlakunya persaingan dan pergolakan politik, pemerintahan Islam beralih ke Dinasti Umayyad, satu kerajaan pemerintahan yang berprinsipkan dinasti iaitu yang berdasarkan zuriat keturunan. Dinasti Umayyad tidak memberikan perhatian yang besar kepada perkembangan fiqh Islam. Mereka hanya menumpukan perhatian kepada soalan perluasan empayar dan kekuasaan material.
Dalam era ini banyak pengaruh luar yang berasal daripada Byzantium, Parsi dan India masuk mencemari pemerintahan Dinasti Umayyad. Pola pemerintahan mula bertukar sedikit sebanyak ke arah sekular yang mengasingkan antara agama dan pentadbiran negara. Hiburan-hiburan dan adat-istiadat baru juga mula diperkenalkan dalam istana yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti muzik dan tari menari, ahli nujum, penilik nasib dan sebagainya. Selain itu juga institusi Baitulmal telah bertukar daripada milik rakyat kepada kegunaan persendirian dan pelbagai cukai baru dikenakan. Pemerintah juga mula membezakan keutamaan seseorang berdasarkan bangsa dan kabilah sehingga menyebabkan timbulnya sentimen perkauman di kalangan rakyat.
Pola pemerintahan Dinasti Umayyad ini digambarkan oleh Seyyed Hussien Nasr sebagai:
Dengan tertubuhnya Dinasti Umayyad ini, suatu era baru telah bermula, yaitu lahirnya suatu empayar pemerintahan yang menjangkau dari Asia Tengah hinggalah ke Sepanyol. Mereka sangat-sangat mementing dan mengutamakan kekuasaan serta keluasan empayar walau pada hakikatnya mereka banyak menghadapi masalah pentadbiran dan kewangan dalaman.
Dari segi pentadbiran negara, boleh dikatakan Dinasti Umayyad telah berjaya melakukan suatu usaha yang amat besar lagi berat bagi menjaga wilayah-wilayah dalam empayar mereka. Akan tetapi jika dilihat dari segi nilai-nilai agama, dinasti ini jelas melambangkan kejatuhan dan kemerosotan dari kesyumulan Islam yang wujud sebelum itu.
Mereka (Umayyad) tidak mengambil berat akan penjagaan prinsip dan perlaksanaan ajaran Islam sebagaimana yang dilakukan oleh khalifah-khalifah yang empat terdahulu. Mereka lebih mementingkan hal-hal urusan dan pentadbiran empayar dan melihat persoalan agama sebagai sesuatu yang remeh.
Di kalangan pemerintah-pemerintah Dinasti Umayyad, sedikit sahaja yang benar-benar melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai pemimpin. Antaranya ialah ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz. Beliau memegang jawatan pemerintah dari tahun 717M hingga 720M dan pada zaman inilah wilayah-wilayah Islam dapat hidup di bawah bendera Islam yang sebenar. Akan tetapi era pemerintahan beliau adalah singkat dan selepas itu Dinasti Umayyad kembali ke era kegelapan di bawah pemerintah-pemerintah yang seterusnya.
Para pemerintah Umayyad tidak memberikan perhatian yang besar kepada tuntutan-tuntutan syari‘at Islam di dalam suasana kehidupan mereka, begitu juga terhadap rakyat umumnya. Sebarang teguran daripada para ulama’ ditepis dan sesiapa yang berani menentang dihukum buang negeri. Para ulama’ istana adalah yang dipilih khas bagi menepati hasrat dan tuntutan persendirian sahaja. Pola pemerintahan Dinasti Umayyad yang sedemikian menyebabkan ulama’-ulama’ pada ketika itu mula menyisihkan diri daripada istana. Mereka juga lebih cenderung untuk berhijrah ke beberapa wilayah lain yang sudah berada di bawah bendera Islam tetapi masih dahagakan ajaran Islam yang sepenuhnya.
Fiqh Islam kini berada dalam usaha dan ijtihad perseorangan…… dalam suasana berkelompok atau berkumpulan di sekitar seseorang tokohnya dan ini merupakan noktah permulaan kelahiran mazhab-mazhab Islam.
Hampir semua ulama’ yang berhijrah ke daerah-daerah baru Islam ini ialah anak-anak murid didikan para sahabat Rasulullah saw. Mereka juga lebih dikenali sebagai gelaran tabi‘in. Adakalanya di beberapa daerah atau wilayah itu muncul ulama’ yang kehandalannya berhujah serta berfatwa melebihi daripada kebiasaan. Kepantasan serta kecekapan mereka mengupas persoalan-persoalan agama sangat tepat lagi menyakinkan.
Justeru itu orang ramai mula berkumpul untuk belajar bersama-sama “tokoh baru” ini. Sering kali juga berita kehandalan tokoh baru ini tersebar ke daerah-daerah berdekatan menyebabkan mereka juga datang beramai-ramai untuk belajar sama. Ini berlaku di beberapa daerah dan dengan ini wujudlah suasana pembelajaran fiqh Islam secara berkelompok dan berkumpulan. Suasana sebegini tidaklah dapat dielakkan kerana tidak wujud medium penyampaian pada zaman tersebut yang dapat meluaskan ajaran seseorang tokoh kepada daerah-daerah lain. Suasana ini berterusan sehingga jumlah orang yang ikut belajar semakin banyak. Selari dengan itu, pengaruh tokoh yang mengajar juga semakin berkembang luas.
Akhirnya suasana fiqh Islam telah berubah ke satu era yang baru. Di dalamnya ada kelebihan dan ada kekurangan. Kelebihannya ialah ilmu Islam dapat tersebar dengan lebih meluas meliputi daerah-daerah yang baru. Sebaliknya kita juga dapati fiqh Islam kini berada dalam usaha dan ijtihad perseorangan, tidak lagi secara shura dan ijma’ sebagaimana yang wujud pada era para sahabat dan khalifah. Fiqh Islam secara perseorangan ini pula wujud dalam suasana berkelompok atau berkumpulan di sekitar seseorang tokohnya dan ini merupakan noktah permulaan kelahiran mazhab-mazhab Islam. Kota Madinah tidak lagi menjadi pusat ilmu Islam yang ulung melainkan pada beberapa ketika seperti pada musim haji.
Pada permulaan kurun ke 2H/8M, umat Islam sudah mula merasa tidak puas hati kepada pemerintahan Dinasti Umayyad. Suasana ini menimbulkan pemberontakan dan akhirnya dinasti ini dapat dijatuhkan. Peristiwa ini diringkaskan oleh Ensiklopidi Islam (Ind) dalam satu perenggan sebagai:
Pada awal abad ke-8 (102H/720M) sentimen anti-pemerintahan Bani Umayyad telah tersebar secara intensif. Kelompok-kelompok yang merasa tidak puas bermunculan, yaitu di kalangan muslim bukan Arab (Mawali) yang secara terang-terangan mengeluh akan status mereka sebagai warga kelas dua di bawah muslim Arab, kelompok Khawarij dan Shi’ah yang terus menerus memandang Bani Umayad sebagai perampas khalifah, kelompok muslim Arab di Mekah, Madinah dan Iraq yang sakit hati atas status istimewa penduduk Syria, dan kelompok muslim yang salih baik Arab atau bukan Arab yang memandang keluarga Umayyad telah bergaya hidup mewah dan jauh dari jalan hidup yang Islami. Rasa tidak puas hati ini akhirnya melahirkan suatu kekuatan koalisi (coalition) yang didukung oleh keturunan al-Abbas, paman Nabi s.a.w.
Selepas kewafatan tokoh-tokoh di atas, ajaran serta prinsip mereka diteruskan oleh anak-anak murid mereka. Setiap dari mereka cenderung mengajar dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh guru mereka dan dengan itu pengaruh mazhab imam mereka makin terserlah di kalangan umat Islam.
Demikian juga ulas Seyyed Hussein Nasr:
Pada penghujung Era Dinasti Umayyad, orang ramai mula menyadari bahwa kedudukan umat dan negara sudah mulai jauh menyimpang dari nilai-nilai Islam yang benar.
Kesadaran agama di kalangan rakyat, terutamanya golongan Shi’ah yang selama ini sememangnya tidak menerima pemerintahan Umayyad menyebabkan mereka bangun menentang amalan-amalan pemerintahan Umayyad. Usaha mereka disokong dengan kedatangan pengaruh Abbasid…………
Kejatuhan Dinasti Umayyad menyaksikan kelahiran Dinasti Abbasid yang memerintah dari 132H/750M hingga 339H/950M. Pola pemerintahan Abbasid dan Umayyad tidaklah sama di mana Dinasti Abbasid mula memberikan perhatian dan keutamaan kepada Islam terutamanya dari sudut keilmuannya. Dalam era inilah keilmuan Islam kembali bangun dan terus bangun ke tahap ilmiah yang sangat tinggi. Hasbi ash-Shiddieqie rahimahullah menerangkan:
Sebaik sahaja fiqh Islam memasuki era ini, berjalanlah perkembangan-perkembangannya yang cepat menempuh pelbagai lapangan yang luas. Perbahasan-perbahasan ilmiah meningkat tinggi sehingga tasyri’ Islam pada masa ini memasuki period kematangan dan kesempurnaan. Para ulama era ini mewariskan kepada para muslimin kekayaan ilmiah yang tidak ada taranya.
Dalam era inilah dibukukan ilmu-ilmu al-Qur’an, ilmu Hadis, ilmu kalam, ilmu lughah dan ilmu fiqh. Dan dalam era inilah juga lahirlah tokoh-tokoh fiqh yang terkenal……..
Tokoh-tokoh fiqh yang dimaksudkan ini ialah mereka yang sudah mula terkenal namanya sejak dari era Umayyad lagi sepertimana yang diterangkan sebelum ini. Ketokohan mereka dalam bidang ilmu-ilmu Islam sangat memuncak sehingga orang ramai dari segala pelusuk dunia Islam mulai datang ke daerah mereka untuk menuntut ilmu.
Antara tokoh-tokoh yang dimaksudkan itu ialah Abu Hanifah (150H/767M) dan Sufyan al-Thawri (160H/777M) di Kufah, al-Auza‘i (157H/774M) di Beirut, al-Layts ibn Sa‘ad (174H/791M) di Mesir dan Malik bin Anas (179H/796M) di Madinah. Kemudian daripada mereka lahir juga tokoh-tokoh lain yang mana mereka ini pula ialah anak murid bagi tokoh-tokoh di atas. Di antara yang dimaksudkan ialah Muhammad bin Idris al-Shafi‘e (204H/820M), Ahmad bin Hanbal al-Shaybani (241H/855M), Dawud ibn ‘Ali (270H/883M) dan Muhammad ibn Jarir al-Tabari (311H/923M). Ketokohan dan keilmiahan ulama’-ulama’ di atas diiktiraf ramai dan gelaran Imam diberikan kepada mereka.
Setiap daripada tokoh-tokoh ini mempunyai ratusan umat Islam yang mengerumuni mereka sebagai punca sumber ilmu pengetahuan. Walaupun setiap dari tokoh-tokoh ini mengajar berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, ada kalanya timbul perbedaan sesama mereka. Perbedaan ini timbul atas sebab-sebab yang sukar untuk dielakkan pada masa era ini seperti berijtihad secara berseorangan, tidak kesampaian sesuatu Hadis yang khusus, berlainan kefahaman terhadap sesuatu nas, kaedah pengambilan hukum yang berbeda dan sebagainya.
Perbedaan-perbedaan ini dikatakan sebagai pendapat seseorang tokoh itu dan ia dihubungkan kepada namanya. Sesuatu pendapat inilah yang digelar sebagai Mazhab. (A particular school of thought).
Pada era ini juga ilmu-ilmu Islam mula dibahagikan kepada beberapa jurusan bagi memudahkan seseorang itu mencapai kemahiran di dalamnya seperti ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu kalam, ilmu bahasa dan sebagainya.
Selain itu ilmu-ilmu di atas juga mula dibukukan secara formal. Antara pembukuan terawal bagi ilmu fiqh Islam ialah Kitab al-Khaaraj oleh Abu Yusuf dan Kitab Al Umm oleh Muhammad Idris al-Shafi‘e. Pembukuan dan penulisan kitab hadis yang terawal juga berlaku pada dalam era ini atas saranan Khalifah Harun al-Rashid. Antara kitab hadis terawal yang diusahakan ialah al-Muwattha’ oleh Malik bin Anas.
Selepas kewafatan tokoh-tokoh di atas, ajaran serta prinsip mereka diteruskan oleh anak-anak murid mereka. Setiap dari mereka cenderung mengajar dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh guru mereka dan dengan itu pengaruh mazhab imam mereka makin terserlah di kalangan umat Islam. Oleh kerana itulah kita dapati pada era ini orang ramai di sekitar Madinah dan Mekah banyak berpegang kepada pendapat Malik bin Anas (Mazhab Maliki), orang ramai di sekitar Iraq cenderung pula kepada pendapat Abu Hanifah (Mazhab Hanafi) dan orang ramai di sekitar Mesir cenderung kepada pendapat al-Layts ibn Sa‘ad.
Suasana kecenderungan kepada satu mazhab semakin menguat apabila pihak pemerintah Dinasti Abbasid mengambil dan mengiktiraf pendapat Abu Hanifah sahaja sebagai mazhab rasmi dunia Islam ketika itu. Suasana ini menimbulkan ketidak-puasan di kalangan orang-orang Madinah, Mesir dan lain-lain. Keadaan ini menjadi lebih tegang apabila pemerintah-pemerintah Abbasid mula mencabar dan menganjurkan perdebatan antara tokoh ilmuan mazhab-mazhab yang berlainan hanya atas tujuan peribadi dan hiburan istana. Perbuatan pemerintah-pemerintah Abbasid ini memburukkan lagi suasana perkelompokan dan persendirian dalam bermazhab di kalangan umat Islam. Abu Ameenah Bilal Philips menerangkan:
Perdebatan-perdebatan ini menimbulkan suasana persaingan dan dogmatisma sesama mereka karena apabila kalahnya seorang tokoh itu dalam perdebatan ini dia bukan saja kehilangan ganjaran uang dari pemerintah tetapi juga kehilangan maruah dirinya.
Lebih dari itu kehilangan maruah diri sangat berhubung-kait dengan kehilangan maruah mazhab seseorang itu. Justeru kita dapati menghujahkan kebenaran atau kebatilan mazhab seseorang itu menjadi agenda utama debat-debat tersebut. Hasilnya, persaingan dan perselisihan makin memanas antara tokoh-tokoh mazhab.
Pada kurun ke 3H/9M, suasana keilmuan Islam bertambah hebat lagi dengan munculnya tokoh-tokoh dan ahli-ahli Hadis seperti Imam Bukhari (256H/870M), Imam Muslim (261H/875M), Imam at-Tirmizi (279H/892M), Imam Abu Daud (275H/889M), Imam An Nasai (303H/915M), Imam Ibnu Majah (273H/887M) dan banyak lagi. Mereka menjihadkan seluruh tenaga, masa dan hayat bagi merantau ratusan kilometer ke seluruh dunia Islam ketika itu untuk mencari, meriwayat, menganalisa, menapis dan membukukan Hadis-Hadis Rasulullah saw dengan penuh ketelitian dan sistematik. Hadis-hadis Rasulullah ditapis dan dianalisa terlebih dahulu dengan ketat sekali sebelum ianya diterima dan diberikan status sahih.
Malangnya pada ketika ini, tokoh-tokoh fiqh yang utama, seperti Abu Hanifah, Malik, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal telahpun meninggal dunia. Ini sedikit-sebanyak ada hubung-kaitnya dengan kesempurnaan pendapat fiqh mereka karena ada pendapat mereka yang secara tidak sengaja didasarkan kepada hadis yang lemah atau tidak tepat karena tidak menjumpai hadis yang khusus sebagai dalil.
Permulaan kurun ke 4H/10M menyaksikan Dinasti Abbasid mulai menghadapi era kejatuhannya atas pelbagai masalah dalaman serta luaran. Selepas tahun 339H/950M dunia Islam diperintah oleh beberapa kelompok dinasti-dinasti yang kecil, masing-masing mewakili daerahnya. Pada ketika ini ajaran-ajaran fiqh Islam mula terkumpul sebagai empat ajaran atau empat mazhab, yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab al-Syafi‘e dan Mazhab Hanbali. Umat Islam pada kurun ke 4H/10M dan seterusnya mula terikut secara ketat kepada empat mazhab ini.
Pada penghujung hayat Dinasti Abbasid ini juga acara-acara perdebatan sesama tokoh dan mazhab makin memuncak sehinggakan acara ini memperoleh namanya yang tersendiri, yaitu Munaad Haraat. Dengan itu juga semangat persaingan dan pembelaan mazhab makin berleluasa, bukan saja kepada tokoh-tokoh yang berdebat tetapi juga kepada orang ramai karena masing-masing membenarkan tokoh dan menyokong mazhab mereka.
Ini secara tidak langsung menyaksikan secara perlahan-lahan terbinanya tembok-tembok pemisah antara sesebuah mazhab sama ada dari segi ajaran, masyarakat dan geografi. Tembok ini dengan peredaran zaman semakin meninggi dan menebal. Umat Islam mula dibahagikan dan dikategorikan kepada mazhab yang mereka ikuti dan pegangi sehinggakan ahli-ahli ilmu pada zaman ini juga mula mengakhiri nama mereka dengan mazhab yang didokongi masing-masing.
Era Ketiga
Konsep “Kami mazhab kami, mereka mazhab mereka” menjadi cogan kata umat keseluruhannya…… para ulama’ se-sebuah negara tidak mempunyai banyak pilihan kecuali hanya mengajar dan berfatwa berdasarkan mazhab negaranya, tidak lebih dari itu.
Selepas kejatuhan Dinasti Abbasid, umat Islam berada dibawah beberapa kelompok kerajaan yang berasingan. Masing-masing mempunyai kaedah pemerintahan yang tersendiri dan masing-masing mempunyai ‘mazhab’ resmi yang dijadikan sumber rujukan pelaksanaan syari‘at-syari‘at Islam. Pada ketika ini juga, yaitu pada kurun-kurun ‘pertengahan’ , umat Islam keseluruhannya mula mengalami kejatuhan dan kemundurannya berbanding dengan negara-negara non-muslim selainnya.
Banyak faktor yang menyumbang kepada kejatuhan umat Islam pada ketika ini, antaranya ialah:
1. Terlalu leka dengan kejayaan yang dicapai sejak beberapa kurun yang lepas,
2. Ghairah dengan habuan duniawi hingga alpa akan panduan hidup yang diberikan oleh agama,
3. Banyak perselisihan sesama sendiri atas tuntutan duniawi dan berbagai lagi.
Akan tetapi satu faktor yang amat penting yang berhubung-kait dengan mazhab-mazhab Islam yang empat ialah wujudnya ketaksuban mazhab dan lahirnya budaya taqlid, yaitu perbuatan hanya mengikut sesuatu ajaran secara membuta tanpa mengetahui apakah hujah atau alasan di sebaliknya.
Dengan terbaginya umat Islam kepada beberapa kelompok kerajaan dengan masing-masing mempunyai ‘mazhab resminya’ tersendiri, suasana bermazhab dalam agama menjadi semakin kuat. Seseorang yang berada dalam sesebuah mazhab hanya dibolehkan mempelajari atau mengikuti mazhabnya saja tanpa menengok atau membanding dengan mazhab yang lain. Di samping itu mayoriti umat pula sudah mula
Dengan wujudnya budaya taqlid ini, fiqh Islam dan sekaligus mazhab-mazhabnya berubah dari sesuatu yang dinamik kepada sesuatu yang statik….. Fiqh Islam hanya tinggal 5 perkara, yaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus.
menerima hakikat kewujudan mazhab dan mereka lebih rela mengikuti saja satu-satu mazhab yang tertentu tanpa lebih daripada itu. Konsep “Kami mazhab kami, mereka mazhab mereka” menjadi cogan kata umat keseluruhannya dan tembok-tembok pemisah antara mazhab menjadi lebih tebal, tinggi dan kukuh.
Para ulama’ juga tidak terlepas daripada belenggu ini. Jika mereka mengeluarkan sesuatu fatwa yang tidak selari dengan tuntutan mazhab resmi kerajaan atau wilayah mereka, mereka akan dipulau atau dibuang negeri. Ditambah pula, ke negeri mana sekalipun mereka pergi, mereka terpaksa juga akur dengan ajaran mazhab resminya. Justeru itu para ulama’ sesebuah negara tidak mempunyai banyak pilihan kecuali hanya mengajar dan berfatwa berdasarkan mazhab negaranya, tidak lebih dari itu. Selain itu usaha mereka juga hanya tertumpu kepada pembukuan, peringkasan, penambahan dan penyelarasan ajaran mazhab. Hanya sekali-sekala timbul beberapa ulama’ yang berani melawan arus kebudayaan mazhab ini akan tetapi mereka menghadapi tentangan yang amat sengit dari para pemerintah dan …….. umat Islam sendiri.
Konsep umum “Kami mazhab kami, mereka mazhab mereka” ditambah dengan budaya taqlid mazhab, yaitu mengikuti dan mentaati satu-satu ajaran mazhab secara membuta tanpa mengetahui apakah alasan, hujah maupun dalil yang dikemukakan oleh mazhab tersebut. Dengan wujudnya budaya taqlid ini, fiqh Islam dan sekaligus mazhab-mazhabnya berubah dari sesuatu yang dinamik kepada sesuatu yang statik. Pintu-pintu ijtihad atau daya usaha mengkaji dan menganalisa dihentikan. Maka beralihlah fiqh Islam pada era ini kepada sesuatu yang beku lagi membatu. Ilmu-ilmu Islam tidak lagi bertambah, sebaliknya makin surut dan tenggelam. Fiqh Islam kononnya sudah tidak dapat lagi menjawab persoalan-persoalan baru yang timbul selari dengan tuntutan zaman. Fiqh Islam dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan dan tidak perlu lagi diberi keutamaan dalam suasana zaman terkini.
Dengan meluasnya budaya taqlid ini, kefahaman umat Islam berkenaan agama mereka makin menurun dan merosot. Fiqh Islam hanya tinggal 5 perkara, yaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus. Tanpa mengetahui hujah dan dalil di sebalik ajaran mereka, umat Islam hanya duduk mentaati ajaran mazhab mereka secara membuta. Suasana budaya taqlid tidak hanya terhad kepada bidang fiqh Islam sahaja tetapi ia juga meliputi bidang akidah dan seluruh syari‘at Islam. Paling bahaya ialah dalam bidang akidah di mana umat sendiri sudah tidak tahu lagi apakah ciri-ciri murni akidah Islam yang sebenar dan apakah pula ajaran-ajaran luar yang mencemari akidah mereka sehingga menghampirkan mereka kepada lembah syirik.
Budaya taqlid ini dan kesan buruknya terhadap sejarah umat diterangkan oleh sejarawan Islam: Ibnu Khaldun (808H) rahimahullah:
Para ulama’ menyeru umat Muslimin supaya kembali taqlid kepada imam-imam yang empat. Masing-masing mempunyai imamnya yang tersendiri yang menjadi tempat taqlidnya. Mereka sama sekali tidak berpindah-pindah taqlid karena yang sedemikian itu berarti mempermainkan agama.
Tak ada yang tertinggal dari dinamisme pemikiran Islam selain usaha menukilkan ajaran-ajaran yang sudah ditetapkan oleh mazhab-mazhab yang mereka ‘anut’ , setiap muqallid (orang yang bertaqlid) hanya mempraktikkan ajaran hukum mazhabnya.
Seseorang yang mengakui dirinya melakukan ijtihad tidaklah diakui orang hasil ijtihadnya dan tak seorangpun yang akan bertaqlid kepadanya. Muslimin pada saat ini telah menjadi serombongan manusia yang hanya bertaqlid kepada imam yang empat tersebut. Inilah yang dikatakan orang sekarang sebagai masa kemunduran umat Islam atau pemikiran Islam atau tertutupnya pintu ijtihad.
Walaupun beberapa ketika selepas itu (kurun ke 10H/16M) wujud beberapa kerajaan Islam yang mempunyai kekuatan material dan ketenteraman yang amat hebat sehingga menggerunkan pihak Eropah, ini tidak bertahan lama kerana di sebalik kekuatan tersebut tidak ada keutuhan pendirian agama dan pelaksanaannya terhadap tuntutan nilai-nilai manusiawi. Pada waktu yang sama, ada juga yang mula melihat Islam sebagai sesuatu yang tidak mempunyai masa depan kecuali jika ianya diselaraskan dengan konsep dan ideologi Barat.
Ini mereka lakukan atas faha-man bahawa ilmu-ilmu Islam ini hanyalah sebagai apa yang termaktub dalam ajaran mazhab dan ajaran mazhab itu pula jauh ditinggalkan oleh kemajuan zaman
Beberapa kerajaan Islam ketika itu mula mengimport dan melaksanakan budaya serta ideologi Barat ke dalam kerajaan dan wilayah-wilayah Islam di bawah kawalan mereka. Suasana ini lebih memburukkan: Islam makin tertolak ke belakang dan ideologi lain diletakkan di hadapan. Ini mereka lakukan atas fahaman bahawa ilmu-ilmu Islam ini hanyalah sebagai apa yang termaktub dalam ajaran mazhab dan ajaran mazhab itu pula jauh ditinggalkan oleh kemajuan zaman.
Era ini berjalan terus dengan nasib umat Islam yang sedemikian, yaitu Islam bermazhab, masing-masing bertaqlid kepada mazhab masing-masing ditambah dengan pelbagai ideologi luar yang digunakan sebagai selingan, bahkan gantian kepada ajaran Islam yang asal.
Era Keempat
Pada kurun ke 11H/17M dan 12H/18M, negara-negara Eropah mula mengalami revolusi pembaharuan, kemajuan dan perindustrian. Negara-negara Eropah mula menjajah dan menakluk negara-negara Islam dengan meluaskan pengaruh, agama, ideologi dan adat mereka. Suasana ini mula menyebar dan membangkitkan umat Islam akan hakikat kedudukan mereka yang sebenar. Umat Islam, sekalipun sudah agak terlambat, mula menyadari akan kemunduran mereka dan bahaya yang akan mereka hadapi jika mereka tidak mengubah sikap dan fikiran.
Huzaemah Tahido menerangkan:
Ekspedisi Napoleon ke Mesir yang berakhir pada tahun 1215H/1801M telah membuka mata dunia Islam dan menyadarkan para penguasa dan tokoh-tokoh Islam akan kemajuan dan kekuatan Barat.
Para pemuka Islam mulai berfikir dan mencari jalan untuk mengembalikan perimbangan kekuasaan dan kekuatan yang telah pincang dan membahayakan bagi umat Islam. Hubungan dengan Barat inilah yang menimbulkan pemikiran dan kefahaman ‘pembaharuan’ dan ‘modernisasi’ di kalangan umat Islam.
Bagaimanakah memajukan kembali umat Islam seperti masa klasiknya ? Pertanyaan ini terjawab dengan membebaskan kembali pemikiran dari kebekuannya selama ini. Dengan membebaskan kembali pemikiran, ijtihad kembali bergerak.
Kurun ke 12H/18M dan 13H/19M menyaksikan beberapa gerakan dan revolusi muncul di beberapa bahagian dunia Islam bagi menghapuskan ketaksuban mazhab dan taqlid, meruntuhkan tembok-tembok pemisah mazhab dan membangkitkan semula umat Islam dari tidur sekian lama. Fiqh Islam dan sekaligus syari‘atnya digerakkan semula, kesedaran umat Islam terhadap agama mereka dibangkitkan semula dan semangat Islam maju umat maju dilaungkan kembali.
Antara mereka yang berani lagi gigih membangunkan Islam dari tidurnya ialah Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (1206H/1792M) di Semenanjung Arab; Jamal al-Din al-Afghani (1314H/1897M), Muhammad Abduh (1322H/1905M), Rashid Ridha (1353H/1935M) dan Hasan al Banna (1368H/1949M) di Mesir, Ahmad Khan (1308H/1891M) di India dan Abu A’la Mawdudi (1399H/1979M) di Pakistan.
Selain itu banyak lagi individu lain yang muncul membangunkan semula Islam di benua-benua lain termasuk Asia Tenggara. Walaupun setiap dari mereka mempunyai nama gerakan yang tersendiri, objektifnya tetap sama yaitu memajukan semula Islam berdasarkan pengkajian semula ilmu-ilmu Islam (ijtihad), menolak ikutan buta tanpa ilmu (taqlid) dan mendalami ilmu-ilmu duniawi seperti sains, perekonomian dan sebagainya.
Mereka menekankan bahawa untuk umat Islam bangkit maju semula, mereka wajib mempunyai kepakaran dalam kedua-dua bidang ilmu, yaitu ilmu agama dan ilmu duniawi karena sememang pada asalnya kedua-dua ilmu ini adalah kepunyaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Antara ilmu agama dan ilmu duniawi, ianya saling bantu-membantu, sokong-menyokong; jika ada yang bertentangan maka itu adalah karena kurangnya pengetahuan manusia tentang salah satu daripadanya.
Usaha pembangunan semula umat masih diperjuangkan hingga ke hari. Tokoh-tokoh agama serata dunia Islam mulai sadar akan kepentingan pengkajian semula ilmu-ilmu Islam, menghindarkan ketaksuban mazhab, mengecam taqlid buta, membuka pintu-pintu ijtihad dan pelbagai lagi. Kitab-kitab tafsir, hadis, fiqh dan pelbagai lagi sumber ilmu Islam tanpa mengira mazhab mula diterjemah agar ia dapat dikuasai oleh umat yang tidak mahir dalam bahasa Arab. Seminar, persidangan dan lain-lain dianjurkan tanpa henti-henti.
Akan tetapi usaha yang dilakukan ini masih kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mahu berusaha atau yang menentang terus ijtihadiah sezaman begini.
Akan tetapi usaha yang dilakukan ini masih kecil jumlahnya jika dibandingkan dengan mereka yang tidak mahu berusaha atau yang menentang terus ijtihadiah sezaman begini. Masih ramai umat dan tokoh semasa yang terlalu taksub kepada mazhab sehingga amat berat untuk bertoleransi dengan usaha pembaharuan ini. Tidak kurang juga yang sudah terlalu terpengaruh dengan kebudayaan Barat sehinggakan dirasanya Islam ini, mazhab atau tanpa mazhab, sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Islam menurut mereka hanyalah suatu agama persendirian yang diamalkan di rumah saja oleh sesiapa yang mengingininya. Golongan-golongan sebeginilah yang sebenarnya menjadi penghalang kepada kemajuan Islam dan golongan-golongan sebeginilah yang perlu ditangani dan dirundingi segera.
Demikianlah secara ringkas sejarah pertumbuhan dan perkembangan mazhab-mazhab fiqh Islam. Sememangnya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Khalifah al-Rashidun tidak wujud sebarang mazhab-mazhab Islam. Hanya dengan sebab-sebab sejarah dan politik, barulah muncul mazhab-mazhab ini sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Bagi memantapkan kefahaman, berikut diuraikan faktor-faktor penyebab bagi munculnya mazhab-mazhab fiqh Islam yang empat:
Pola pemerintahan Umayyad yang tidak akur dan patuh kepada tunjuk ajar para ulama’ yang wujud ketika itu. Malah ulama’-ulama’ yang berani menegur pemerintah, diancam atau ditangkap. Ini menyebabkan ulama’-ulama’ era ini menyisihkan diri mereka dari suasana istana berhijrah ke daerah-daerah lain. Hal ini menyebabkan tidak mungkin berlakunya pencarian dan pencapaian kesepakatan (ijma’) dalam apa-apa persoalan agama. Selain itu pertukaran dan perbandingan ilmu sesama ulama’ tidak lagi terjadi sebagaimana pada zaman sebelum pemerintahan Umayyad.
Wilayah Islam sudah semakin luas menyebabkan lahirnya generasi umat Islam yang baru yang menginginkan penjelasan agama terhadap persoalan yang khusus kepada mereka. Oleh kerana Kerajaan Umayyad tidak mengambil peduli akan persoalan agama dan rakyat, maka usaha ini jatuh ke tangan ulama’-ulama’ secara persendirian.
Tidak wujud sebarang sistem komunikasi atau media yang canggih pada zaman ini bagi membolehkan para ulama’ di pelbagai daerah berunding sesama mereka. Oleh itu para ulama’ era ini terpaksa berusaha secara sendirian dalam menghadapi persoalan-persoalan agama. Mereka menafsir al-Qur’an mengikut kemampuan ilmu yang sedia ada dan berusaha mengeluarkan hukum mengikut sejumlah hadis yang sedia diketahuinya.
Dalam suasana ini timbul beberapa ulama’ yang tinggi ilmunya lagi cekap dalam mengupas dan mengolah persoalan agama. Kehebatannya di satu-satu daerah menyebabkan orang ramai mula berkumpul untuk belajar bersamanya. Berita kehebatannya mula tersebar ke daerah berdekatan menyebabkan orang ramai mula bertumpu kepadanya sebagai sumber rujukan ilmu agama.
Perpindahan kerajaan kepada Dinasti Abbasid melihatkan perkembangan ilmu-ilmu Islam secara pesat. Pada era ini juga kehandalan beberapa tokoh persendirian tersebut semakin terserlah. Antara yang paling hebat dan masyhur ialah Malik bin Anas di Madinah, Abu Hanifah di Kufah, al-Syafi‘e di Yaman dan Mesir serta Ahmad bin Hanbal di Baghdad. Pendapat serta ajaran mereka digelar mazhab dan dari sinilah bermulanya Mazhab Maliki, Hanafi, al-Syafi‘e dan Hanbali.
Ajaran Abu Hanifah atau mazhabnya diangkat menjadi mazhab rasmi oleh Kerajaan Abbasid. Pemerintah-pemerintah Abbasid melantik qadi-qadi serta ulama’-ulama’ Hanafi menjadi gabenor atau mufti bagi wilayah-wilayah dalam empayar mereka. Ini menimbulkan banyak ketidakpuasan kepada umat Islam yang tidak cenderung kepada mazhab Hanafi. Mereka enggan akur kepada mufti-mufti Hanafiah dan terus mengamalkan mazhab tokoh-tokoh mereka sendiri.
Menyadari wujudnya perbedaan antara ajaran mazhab, pemerintah-pemerintah Abbasid mula menganjurkan acara perdebatan antara tokoh sesebuah mazhab. Perbuatan ini menyebabkan persaingan dan perselisihan antara mazhab mula memanas dan memuncak.
Setelah jatuhnya Dinasti Abbasid, Kerajaan Ottoman mengambil alih. Selain kerajaan Ottoman wujud juga beberapa kerajaan Islam yang lain. Masing-masing memerintah wilayah mereka yang tersendiri dan mengangkat sesebuah mazhab menjadi mazhab resmi mereka. Perbuatan ini menambahkan lagi persaingan dan perasingan antara mazhab.
Mulai masa ini umat Islam dan negara mereka mula dikenali berdasarkan mazhab. Demikian juga nama-nama tokoh agama didasarkan kepada mazhab yang didokonginya.
Mulai kurun pertengahan hingga masa kini, umat Islam hanya merujuk kepada satu-satu mazhab tertentu saja. Umat Islam dengan sendirinya menutup pintu-pintu ijtihad dan rela duduk mengamalkan konsep bermazhab dan bertaqlid tanpa banyak soal.
Jika kita benar-benar menganalisa faktor-faktor kemunculan mazhab-mazhab fiqh Islam ini, kita akan dapati ianya wujud secara ‘terpaksa’ oleh suasana peredaran zaman dan politik
Jika kita benar-benar menganalisa faktor-faktor kemun-culan mazhab-mazhab fiqh Islam ini, kita akan dapati ianya wujud secara ‘terpaksa’ oleh suasana peredaran zaman dan politik. Para imam mazhab yang empat, Abu Hanifah, Malik bin Anas, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal hanya memiliki tujuan mengajar dan menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang sebenar kepada umat. Mereka berhijrah ke sana-sini semata-mata bagi mencari ilmu dan menyampaikan ilmu. Mereka mengumpul dan menulis ajaran-ajaran Islam supaya ianya tidak hilang dimakan masa, supaya umat terkemudian dapat merujuknya.
Tidaklah menjadi tujuan para imam mazhab untuk sengaja mengelompokkan umat Islam ini kepada mazhab mereka saja. Tidaklah menjadi hasrat para imam mazhab yang empat untuk membelahkan umat ini kepada empat kumpulan. Sejarah dunia memaksa ajaran mereka menjadi terhad kepada sekian daerah dan sekian umat. Suasana politik yang menimbulkan suasana persaingan dengan sengaja menganjurkan debat-debat sesama pengikut mereka. Suasana politik juga memaksa ajaran mazhab ditaati orang ramai tanpa persetujuan mereka.
Oleh yang demikian kita tidak boleh memandang serong dan menyalahkan para imam mazhab sebagai sebab timbulnya mazhab-mazhab Islam ini. Malah jika diperhatikan benar-benar, para imam mazhab inilah yang banyak berjasa mengekal, menjaga dan menyebarkan ilmu-ilmu Islam sebagaimana yang kita pelajari dan amalkan sekarang. Jasa-jasa para imam mazhab ini boleh dirumuskan sebagai:
Tegas berusaha menjaga keaslian dan ketulenan ajaran agama daripada dicemari faktor-faktor politik.
Berusaha menghidupkan semula ajaran Islam yang ditinggalkan oleh peredaran zaman.
Menyusun dan membukukan ajaran-ajaran Islam supaya ia dapat dipelajari oleh umat sepanjang masa.
Tidaklah menjadi tujuan para imam mazhab untuk sengaja mengelompokkan umat Islam ini kepada mazhab mereka saja.
Mengorak kaedah-kaedah fiqh yang sistematik bagi memudahkan umat Islam kemudian hari mencari dan mengeluarkan hukum.
Jasa-jasa para imam mazhab kepada ajaran dan ilmu Islam tidak dapat dilupakan sehingga ke hari ini. Inilah sebagaimana yang diterangkan oleh Abdul Rahman I. Doi:
Imam-imam Abu Hanifah, Malik, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal, yaitu pemimpin-pemimpin Mazhab Ahli Sunnah, telah memberikan jasa baik yang tiada tandingnya dalam bidang fiqh Islami.
Tiadalah seorang juapun dari mereka yang coba untuk mengubah ajaran al-Qur’an dan tiadalah juga mereka bertujuan untuk mengubah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang dituduh oleh segelintir orang lain maupun ahli-ahli ilmuan Islam yang cetek ilmunya.
Demikianlah secara ringkas pertumbuhan dan perkembangan fiqh Islam sejak dari era Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hinggalah ke masa kini. Insya-Allah di bahagian seterusnya kita akan berkenalan pula dengan lebih rapat, siapakah Para imam mazhab yang empat ini dan bagaimanakah jalan hidup mereka menegakkan ilmu-ilmu Islam.
Berkenalan Dengan Para Imam Mazhab
Tidaklah sempurna kefahaman kita tentang mazhab-mazhab Islam yang empat jika kita tidak meninjau terlebih dahulu riwayat hidup para imam mazhab tersebut. Bab ini dimulakan dengan sejarah hidup Abu Hanifah karena beliau adalah yang terawal di antara mereka.
Imam Abu Hanifah
Abu Hanifah pada satu hari telah berjumpa dengan seorang tokoh agama yang masyhur di ketika itu bernama al-Sya’bi. Melihatkan kepintaran dan kecerdasan luar biasa yang terpendam dalam Abu Hanifah, al-Sya’bi menasihatkan beliau agar lebih banyak mencurahkan usaha ke dalam bidang ilmu-ilmu Islam.
Imam Abu Hanifah atau nama sebenarnya Nu’man bin Tsabit bin Zhuthi’ lahir pada tahun 80H/699M di Kufah, Iraq, sebuah bandar yang sudah sememangnya terkenal sebagai pusat ilmu pada ketika itu. Ianya diasaskan oleh ‘Abd Allah ibn Mas‘ud radhiallahu ‘anh (32H/652M), seorang sahabat zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ayahnya seorang pedagang besar, sempat hidup bersama ‘Ali bin Abi Talib radhiallahu ‘anh. Abu Hanifah sekali-sekala ikut serta dalam urusniaga ayahnya akan tetapi minatnya yang lebih besar ialah ke arah membaca dan menghafal Qur’an.
Abu Hanifah pada satu hari telah berjumpa dengan seorang tokoh agama yang masyhur pada ketika itu bernama al-Sya’bi. Melihatkan kepintaran dan kecerdasan luar biasa yang terpendam dalam Abu Hanifah, al-Sya’bi menasihatkan beliau agar lebih banyak mencurahkan usaha ke dalam bidang ilmu-ilmu Islam. Dengan nasihat dan dorongan al-Sya’bi, Abu Hanifah mula menceburkan diri secara khusus mempelajari ilmu-ilmu Islam.
Abu Hanifah mula belajar dengan mendalam ilmu-ilmu qiraat, ilmu bahasa Arab, ilmu kalam dan lain-lain. Akan tetapi bidang ilmu yang paling diminatinya ialah ilmu hadis dan fiqh. Beliau banyak meluangkan masa dan tenaga mendalaminya. Abu Hanifah meneruskan pembelajarannya dengan bergurukan kepada al-Sya’bi dan beberapa tokoh ilmuan lain di Kufah. Menurut riwayat, jumlah gurunya di Kufah saja berjumlah 93 orang.
Beliau kemudiannya berhijrah ke bandar Basrah untuk berguru bersama Hammad bin Abi Sulaiman, Qatadah dan Shu’bah. Setelah sekian lama berguru dengan Shu’bah yang pada ketika itu terkenal sebagai Amir al-Mu’minin fi Hadis (Pemimpin umat dalam bidang hadis), beliau diizinkan gurunya untuk mula mengajar hadis kepada orang ramai. Berkata Shu’bah:
Sebagaimana aku ketahui dengan pasti akan kesinaran cahaya matahari, aku juga ketahui dengan pasti bahwa ilmu dan Abu Hanifah adalah sepasangan bersama.
Abu Hanifah tidak hanya berpuas hati dengan pembelajarannya di Kufah dan Basrah. Beliau kemudiannya turun ke Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Di sana beliau duduk berguru kepada ‘Atha’ bin Abi Rabah. Kemudiannya Abu Hanifah duduk pula bersama Ikrimah, seorang tokoh besar di Mekah yang juga merupakan anak murid kepada ‘Abd Allah ibn ‘Abbas, ‘Ali bin Abi Talib, Abu Hurairah dan ‘Abd Allah ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhum. Kehandalan Abu Hanifah dalam ilmu-ilmu hadis dan fiqh diiktiraf oleh Ikrimah sehingga beliau kemudiannya membenarkan Abu Hanifah menjadi guru kepada penduduk Mekah.
Abu Hanifah kemudiannya meneruskan pengajiannya di Madinah bersama Baqir dan Ja’afar al-Siddiq. Kemudiannya beliau duduk bersebelahan dengan Malik bin Anas, tokoh besar kota Madinah ketika itu. Walaupun Abu Hanifah 13 tahun lebih tua daripada Malik, ini tidak menghalangnya untuk turut serta belajar. Apabila guru kesayanganya Hammad meninggal dunia di Basrah pada tahun 120H/738M, Abu Hanifah telah diminta untuk mengganti kedudukan Hammad sebagai guru dan sekaligus tokoh agama di Basrah. Melihatkan tiada siapa lain yang akan meneruskan perjuangan Hammad, Abu Hanifah bersetuju kepada jawatan tersebut.
Mulai di sinilah Abu Hanifah mengajar dan menjadi tokoh besar terbaru dunia Islam. Orang ramai dari serata pelosok dunia Islam datang untuk belajar bersamanya. Disamping mengajar, Abu Hanifah ialah juga seorang pedagang dan beliau amat bijak dalam mengadili antara dua tanggung-jawabnya ini sebagaimana terang anak muridnya al-Fudail ibn ‘Iyyad:
Adalah Abu Hanifah seorang ahli hukum, terkenal dalam bidang fiqh, banyak kekayaan, suka mengeluarkan harta untuk sesiapa yang memerlukannya, seorang yang sangat sabar dalam pembelajaran baik malam atau siang hari, banyak beribadat pada malam hari, banyak berdiam diri, sedikit berbicara terkecuali apabila datang kepadanya sesuatu masalah agama, amat pandai menunjuki manusia kepada kebenaran dan tidak mau menerima pemberian penguasa.
Pada zaman pemerintahan Abbasid, Khalifah al-Mansur telah beberapa kali meminta beliau menjawat kedudukan qadi kerajaan. Abu Hanifah berkeras menolak tawaran itu. Jawaban Abu Hanifah membuatkan al-Mansur marah lalu dia menghantar Abu Hanifah ke penjara. Akan tetapi tekanan daripada orang ramai menyebabkan al-Mansur terpaksa membenarkan Abu Hanifah meneruskan pengajarannya walaupun daripada dalam penjara. Apabila orang ramai mula mengerumuni penjara untuk belajar bersama Abu Hanifah, al-Mansur merasakan kedudukannya mula tergugat. al-Mansur merasakan Abu Hanifah perlu ditamatkan hayatnya sebelum terlambat.
Akhirnya Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rajab 150H/767M ketika di dalam penjara disebabkan termakan makanan yang diracuni orang. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau dipukul dalam penjara sehingga mati. Kematian tokoh ilmuan Islam ini dirasai oleh dunia Islam. Shalat jenazahnya dilangsungkan 6 kali, setiapnya didirikan oleh hampir 50,000 orang jamaah. Abu Hanifah mempunyai beberapa orang murid yang ketokohan mereka membolehkan ajarannya diteruskan kepada masyarakat. Antara anak-anak murid Abu Hanifah yang ulung ialah Zufar (158H/775M), Abu Yusuf (182H/798M) dan Muhammad bin Hasan al-Syaibani (189H/805M).
Imam Malik bin Anas
Imam Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93H/711M. Beliau dilahirkan di dalam sebuah kota yang merupakan tempat tumbuhnya Islam dan berkumpulnya generasi yang dididik oleh para sahabat Rasulullah saw, radhiallahu ‘anhum. Sejarah keluarganya juga ada hubung-kait dengan ilmu Islam dengan datuknya sendiri seorang perawi dan penghafal hadis yang terkemuka. Pakciknya juga, Abu Suhail Nafi’ adalah seorang tokoh hadis kota Madinah pada ketika itu dan dengan beliaulah Malik bin Anas mula mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya hadis. Abu Suhail Nafi’ ialah seorang tabi‘in yang sempat menghafal hadis daripada ‘Abd Allah ibn ‘Umar, ‘A’isyah binti Abu Bakar, Umm Salamah, Abu Hurairah dan Abu Sa‘id al-Khudri radhiallahu ‘anhum.
Selain Nafi’, Malik bin Anas juga duduk berguru dengan Ja’afar al-Siddiq, cucu kepada al-Hasan, cucu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Malik juga duduk belajar di Masjid Nabawi berguru dengan Muhammad Yahya al-Ansari, Abu Hazim Salmah al-Dinar, Yahya bin Sa’ad dan Hisham bin ‘Urwah. Mereka ini semua ialah anak murid kepada sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suasana kehidupan Malik bin Anas di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan para tabi‘in amatlah menguntungkannya. Para tabi‘in ini adalah mereka yang sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka sempat belajar, mendengar hadis dan mengamalkan perbuatan para sahabat secara terus. Inilah antara sebab kenapa Malik bin Anas tidak pernah meninggalkan Madinah kecuali apabila pergi menunaikan ibadah hajinya.
Suasana kehidupan Malik bin Anas di Madinah yang ketika itu dipenuhi dengan para tabi‘in amatlah menguntungkannya. Para tabi‘in ini adalah mereka yang sempat hidup bersama sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. Mereka sempat belajar, mendengar hadis dan mengamalkan perbuatan para sahabat secara terus.
Malik bin Anas kemudiannya mengambil alih sebagai tokoh agama di Masjid Nabawi. Ajarannya menarik sejumlah orang ramai daripada pelbagai daerah dunia Islam. Beliau juga bertindak sebagai mufti Madinah pada ketika itu. Malik juga ialah antara tokoh yang terawal dalam mengumpul dan membukukan hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitabnya Al Muwattha’. Kitabnya ini menjadi hafalan dan rujukan orang ramai sehinggakan ia pernah dikatakan oleh al-Syafi‘e sebagai:
Tidak wujud sebuah buku di bumi yang paling hampir kepada al-Qur’an melainkan kitab Imam Malik ini.
Antara tokoh besar yang duduk belajar bersama Malik ialah Abu Hanifah dari Kufah. Selain itu diriwayatkan bahawa sebanyak 1300 tokoh-tokoh lain yang duduk bersama menuntut ilmu bersama Malik di Masjid Nabawi. Antaranya termasuklah Muhammad bin Idris, yang kemudiannya terkenal dengan gelaran Imam al-Syafi‘e. Ketinggian ilmu Malik bin Anas pernah diungkap oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai:
Malik adalah penghulu dari para penghulu ahli ilmu dan dia pula seorang imam dalam bidang hadis dan fiqh. Siapakah gerangan yang dapat menyerupai Malik ?
Malik pernah dihukum oleh gubernur Madinah pada tahun 147H/764M karena telah mengeluarkan fatwa bahwa hukum talak yang coba dilaksanakan oleh kerajaan Abbasid sebagai tidak sah. Kerajaan Abbasid ketika itu telah membuat fatwa sendiri bahawa semua penduduk perlu taat kepada pemimpin dan barangsiapa yang enggan akan terjatuh talak ke atas isterinya ! Memandangkan rakyat yang lebih taatkan ulama’ daripada pemimpin, pemerintah Abbasid telah memaksa Malik untuk mengesahkan fatwa mereka. Malik enggan malah mengeluarkan fatwa menyatakan bahwa talak sedemikian tidak sah (tidak jatuh talaknya). Malik ditangkap dan dipukul oleh gubernur Madinah sehingga bahunya patah dan terkeluar daripada kedudukan asalnya. Kecederaan ini amatlah berat sehingga beliau tidak lagi dapat bershalat dengan memegang kedua tangannya di dada, lalu dibiarkan saja di tepi badannya.
Malik kemudiannya dibebaskan dan beliau kembali mengajar di Madinah sehinggalah beliau meninggal dunia pada 11 Rabiul-Awal tahun 179H/796M. Di antara anak-anak murid beliau yang masyhur ialah ‘Abd al-Rahman bin al-Qasim al-Tasyri (191H/807M), Ibn Wahhab Abu Muhammad al-Masri (199H/815M) dan Yahya bin Yahya al-Masmudi (234H/849M).
Imam al-Syafi‘e
Imam al-Syafi‘e lahir di Gaza, Palestin pada tahun 150H/767M. Nama sebenarnya ialah Muhammad bin Idris al-Syafi‘e. Beliau mempunyai pertalian darah Quraish dan hidup tanpa sempat melihat ayahnya. Pada umur 10 tahun ibunya membawanya ke Mekah untuk ibadah Haji dan selepas itu beliau tetap berada di sana menuntut ilmu. Di Mekah al-Syafi‘e memulakan perguruannya kepada Muslim bin Khalid al-Zanji, mufti Kota Mekah ketika itu.
“Suasana ini memberikan kelebihan yang penting bagi al-Syafi‘e, yaitu beliau berkesempatan untuk belajar dan membanding antara dua ajaran Islam, iaitu ajaran Malik bin Anas dan ajaran Abu Hanifah”.
Kitab ilmu yang paling terkemuka pada ketika itu ialah al-Muwattha’ karangan Malik bin Anas dan al-Syafi‘e dalam usia mudanya 15 tahun telahpun menghafal keseluruhan kitab tersebut. al-Syafi‘e kemudiannya berhijrah ke Madinah untuk berguru dengan penulis kitab itu sendiri. Ketika itu al-Syafi‘e berumur 20 tahun dan beliau terus duduk bersama Malik sehinggalah kematiannya pada tahun 179H/796M. Ketokohan al-Syafi‘e sebagai murid terpintar Malik bin Anas mulai diiktiraf ramai. al-Syafi‘e mengambil alih sebentar kedudukan Malik bin Anas sebagai guru di Masjid Nabawi sehinggalah beliau ditawarkan kedudukan pejabat oleh Gubernur Yaman. Jawatan al-Syafi‘e di Yaman tidak lama karena beliau telah difitnah sebagai pengikut Mazhab Syi‘ah. Selain itu pelbagai konspirasi lain dijatuhkan ke atasnya sehinggalah beliau dirantai dan dihantar ke penjara Baghdad, pusat pemerintahan Dinasti Abbasid ketika itu.
al-Syafi‘e dibawa menghadap ke Khalifah Harun al-Rashid dan beliau berjaya membuktikan kebenaran dirinya. Kehandalan serta kecekapan al-Syafi‘e membela dirinya dengan pelbagai hujah agama menyebabkan Harun tertarik kepadanya. al-Syafi‘e dibebaskan dan dibiarkan bermastautin di Baghdad. Di sini al-Syafi‘e telah berkenalan dengan anak murid Abu Hanifah dan duduk berguru bersama mereka, terutamanya Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani. Suasana ini memberikan kelebihan yang penting bagi al-Syafi‘e, yaitu beliau berkesempatan untuk belajar dan membanding antara dua ajaran Islam: ajaran Malik bin Anas dan ajaran Abu Hanifah.
Pada tahun 188H/804M, al-Syafi‘e berhijrah ke Mesir. Sebelum itu beliau singgah sebentar di Mekah dan di sana beliau diberi penghormatan dan dipelawa memberi kelas pengajian. al-Syafi‘e kini mula diiktiraf sebagai seorang imam dan beliau banyak meluahkan usaha untuk coba menutup jurang perbedaan antara ajaran Malik bin Anas dan Abu Hanifah. Usahanya ini tidak disambut baik oleh penduduk Mekah karena kebiasaan mereka kepada ajaran Malik.
Pada tahun 194H/810M, al-Syafi‘e kembali semula ke Baghdad dan beliau dipelawa untuk memegang jawatan qadi bagi Dinasti Abbasid. Beliau menolak dan hanya singgah selama 4 tahun di Baghdad. al-Syafi‘e kemudian kembali ke Mesir dan memusatkan ajarannya di sana. Daud bin ‘Ali pernah ditanya akan kelebihan al-Syafi‘e berbanding tokoh-tokoh lain pada ketika itu, maka beliau menjawab:
al-Syafi‘e mempunyai beberapa keutamaan, berkumpul padanya apa yang tidak terkumpul pada orang lain. Dia seorang bangsawan, dia mempunyai agama dan i’tiqad yang benar, seorang yang sangat murah hati, mengetahui hadis sahih dan hadis daif, nasikh, mansukh, menghafal al-Qur’an dan Hadis, perjalanan hidup para Khulafa’ al-Rashidun dan amat pandai mengarang.
Dalam usahanya untuk coba menutup jurang perbedaan antara ajaran Malik bin Anas dan Abu Hanifah, al-Syafi‘e menghadapi banyak tentangan daripada pengikut-pengikut Mazhab Maliki yang taksub kepada guru mereka. Pada satu malam dalam perjalanan balik ke rumah dari kuliah Maghribnya di Mesir, al-Syafi‘e telah dipukul sehingga menyebabkan kematiannya. Pada ketika itu al-Syafi‘e juga sedang menghadapi penyakit buasir yang agak serius.
al-Syafi‘e meninggal dunia pada 29 Rajab tahun 204H/820M di Mesir. Beliau meninggalkan kepada dunia Islam sebuah kitab yang paling agung dalam bidang usul fiqh berjudul al-Risala. Kitab ini adalah yang terawal dalam menyatakan kaedah-kaedah mengeluarkan hukum daripada sesebuah nas al-Qur’an dan al-Sunnah. Selain itu al-Syafi‘e juga meninggalkan kitab fiqhnya yang masyhur berjudul al-Umm. Ajaran al-Syafi‘e diteruskan oleh beberapa anak muridnya yang utama seperti Abu Yakub al-Buwayti (231H/846M), Rabi’ bin Sulaiman al-Marali (270H/884M) dan Abu Ibrahim bin Yahya al-Muzani (274H/888M).
Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Abu ‘Abd Allah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad pada tahun 164H/781M. Ayahnya seorang mujahid Islam dan meninggal dunia pada umur muda 30 tahun. Ahmad kemudiannya dibesarkan oleh ibunya Saifiyah binti Maimunah. Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur’an sejak kecil dan pada umurnya 16 tahun dia sudah menjadi penghafal hadis yang terkenal. Ahmad bin Hanbal meneruskan pengajian hadisnya dengan sekian ramai guru dan beliau pada akhir hayatnya dijangkakan telah menghafal lebih daripada sejuta hadis termasuk barisan perawinya.
Ahmad bin Hanbal menghafal al-Qur’an sejak kecil dan pada umurnya 16 tahun dia sudah menjadi penghafal hadis yang terkenal.
Pada tahun 189H/805M Ahmad bin Hanbal berhijrah ke Basrah dan tidak lama kemudian ke Mekah dan Madinah untuk menuntut ilmu. Di sana beliau sempat duduk berguru dengan al-Syafi‘e. Sebelum itu guru-gurunya yang masyhur ialah Abu Yusuf, Husain ibn Abi Hazim al-Washithi, ‘Umar ibn ‘Abd Allah ibn Khalid, ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi dan Abu Bakar ibn ‘Iyasy. Pada tahun 198H Ahmad bin Hanbal ke Yaman pula untuk berguru dengan ‘Abd al-Razzaq ibn Humam, seorang ahli hadis yang besar ketika itu, terkenal dengan kitabnya yang berjudul al-Musannaf. Dalam perjalanannya ini Ahmad mula menulis hadis-hadis yang dihafalnya setelah sekian lama.
Ahmad bin Hanbal kembali semula ke Baghdad dan mula mengajar. Kehebatannya sebagai seorang ahli hadis dan pakar fiqh menarik perhatian orang ramai dan mereka mula mengerumuninya untuk belajar bersama. Antara anak muridnya yang kemudian berjaya menjadi tokoh hadis terkenal ialah al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud. al-Qasim ibn Salam pernah berkata:
Ahmad bin Hanbal adalah orang yang paling ahli dalam bidang hukum dan aku tidak melihat ada orang yang lebih mengetahui tentang al-Sunnah selain dia. Dia tidak pernah bersenda gurau, dia selalu berdiam diri, tidak memperkatakan apa-apa selain ilmu.
Ahmad bin Hanbal pernah mengalami pengalaman hidup dalam penjara karena kekerasannya menentang Mazhab Mu’tazilah yang diterima oleh pemerintah Abbasid ketika itu. Mereka (pemerintah) memaksa Ahmad mengesahkan mazhab baru tersebut. Ahmad enggan dan ini menyebabkan beliau dirotan dalam penjara sehingga tidak sadarkan diri.
Ketegasan Ahmad dan tekanan daripada orang ramai akhirnya menyebabkan pihak pemerintah terpaksa membebaskan beliau. Ahmad kemudian meneruskan pengajarannya kepada orang ramai sehinggalah kematiannya pada tahun 241H/856M. Ahmad bin Hanbal meninggalkan kepada dunia Islam kitab hadisnya yang terkenal yaitu al-Musnad yang mengandungi lebih kurang 30,000 hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan atsar para sahabat radhiallahu ‘anhum. Dua orang anaknya yang utama meneruskan perjuangan ayah mereka, yaitu ‘Abd Allah bin Ahmad dan Salih bin Ahmad.
Demikian secara ringkas riwayat hidup para imam mazhab yang masyhur. Selain itu terdapat juga beberapa tokoh yang tidak kurang hebatnya yang hidup sezaman dengan mereka. Akan tetapi karena beberapa sebab tertentu, mazhab para tokoh ini tidak bertahan lama atau tidak menjadi masyhur. Antara tokoh-tokoh yang dimaksudkan itu ialah:
Imam al-Awza‘e. Nama sebenar beliau ialah ‘Abd al-Rahman ibn al-Awza‘e
Dilahirkan di kota Ba’labek, Syria pada tahun 89H/708M. Terkenal sebagai seorang tokoh hadis yang terkemuka pada zamannya. Antara prinsip ajaran fiqhnya ialah menjauhkan penggunaan kaedah qiyas apabila wujudnya dalil yang jelas dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Mazhab al-Awza‘e terkenal di Syria, Jordan, Palestin dan Lubnan sehinggalah ke kurun ke 10M apabila Mazhab al-Syafi‘e mula mempengaruhi penduduk di sana. al-Awza‘e meninggal dunia di Beirut pada tahun 157H/774M. Prinsip-prinsip ajaran beliau berkenaan penggunaan qiyas banyak tertulis di dalam kitab-kitab usul fiqh hingga ke hari ini.
Imam Zaid adalah cucu kepada Ali bin Abi Talib melalui anaknya Hasan. Beliau di lahirkan di Madinah pada tahun 81H/700M dan menumpukan perhatian kepada ilmu al-Qur’an dan al-Sunnah. Beliau mengajar di beberapa bandar dan kota, antaranya Madinah, Basrah Kufah dan Wasit. Ajarannya masih diamalkan hingga kini di beberapa lokasi terpencil di Yaman.
Imam al-Layts ibn Sa‘ad berketurunan Parsi, lahir di Mesir pada tahun 97H/716M. Beliau mempelajari jurusan-jurusan ilmu Islam daripada Abu Hanifah dan Malik bin Anas. Ketokohannya di Mesir sangat terserlah sehinggakan al-Syafi‘e juga berhijrah ke sana untuk duduk belajar bersama anak-anak muridnya. al-Layts meninggal dunia pada tahun 174H/791M dan ajaran-ajarannya tidak tersebar luas karena beliau melarang anak muridnya menulisnya.
Imam Sufyan al-Tsauri lahir di Kufah pada tahun 100H/719M dan merupakan salah orang ulama’ yang besar di sana di samping Abu Hanifah. Beliau berani menyuarakan ketidak-setujuannya terhadap beberapa prinsip pemerintahan Abbasid ketika itu yang tidak sehaluan dengan ajaran Islam. Sufyan al-Tsauri diburu oleh pihak pemerintah menyebabkan beliau banyak menghabiskan masa hidupnya mengajar dalam persembunyian hinggalah ke hari kematiannya pada tahun 160H/777M.
Imam Dawud al-Zahiri lahir di Kufah pada tahun 236H/851M. Nama sebenarnya ialah Dawud bin ‘Ali. Beliau pernah berguru dengan al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal dalam ilmu hadis dan fiqh. Dawud bin ‘Ali berpegang kepada prinsipnya yang tersendiri yaitu hanya menerima nas al-Qur’an dan al-Sunnah dalam bentuknya yang zahir tanpa ditakwil atau diqiyaskan. Oleh itulah beliau terkenal sebagai al-Zahiri yang berasal dari perkataan ‘zahir’. Dawud bin ‘Ali meninggal dunia pada tahun 270H/883M dan mazhabnya banyak didokongi oleh tokoh ilmuan yang terkenal pada kurun ke 11M, yaitu Imam Ibn Hazm (456H/1064M).
Imam al-Tabari atau nama sebenarnya Muhammad ibn Jarir ibn Yazid al-Tabari lahir di Tabaristan pada tahun 224H/839M. Beliau banyak merantau menuntut ilmu di seluruh semenanjung Arab sehingga ke Mesir. Beliau sempat mendalami ajaran-ajaran Abu Hanifah, Malik dan al-Syafi‘e. Sekembalinya ke tempat asalnya beliau mula mengajar kepada orang ramai. Antara hasil tulisannya yang terkenal ialah kitab tafsir berjudul Jami’ al-Bayan yang terkenal sehingga hari ini.
Demikian riwayat hidup ringkas beberapa tokoh-tokoh Islam terawal yang memainkan peranan penting dalam menghidup dan memajukan Islam dari sudut keilmuannya. Mereka mengorbankan keseluruhan hidup mereka untuk mencari dan menyebarkan ilmu. Jasa-jasa mereka dapat kita manfaatkan hingga hari ini.
Tokoh-tokoh Islam di atas juga dikenali sebagai imam-imam mujtahid. Imam Mujtahid bermaksud imam yang melakukan ijtihad. Ijtihad dari sudut bahasa berarti:
Mencurah segala kemampuan dalam segala perbuatan. Kata-kata ijtihad tidak dipergunakan kecuali kepada hal-hal yang mengandungi kesulitan dan memerlukan banyak tenaga.
Sementara dari sudut syara’, ijtihad berarti:
Mencurah segala kemampuan bagi mendapatkan hukum syara’ yang bersifat praktikal dengan cara istimbat – mengambil kesimpulan hukum.
Seorang yang berijtihad dengan menggali, menganalisa dan mengkaji sumber-sumber ilmuan Islam dari al-Qur’an dan al-Sunnah digelar sebagai seorang Mujtahid sepertimana tokoh-tokoh yang diuraikan biografi mereka di atas.
Pegangan Dan Prinsip Para Imam Mazhab
Setiap para imam mazhab: Abu Hanifah, Malik bin Anas, al-Syafi‘e dan Ahmad bin Hanbal rahimahullah tidak berpegang kepada sesuatu sumber yang lain dalam mazhab mereka melainkan al-Qur’an dan al-Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka juga tidak mengeluarkan apa-apa pendapat melainkan merujuk kepada kepada dua sumber mulia tersebut. Hanya apabila timbul sesuatu persoalan yang tidak dibahas secara terperinci oleh kedua-dua sumber tersebut, mereka mengeluarkan pendapat berdasarkan kaedah qiyas, ijma’ dan sebagainya. Semua kaedah ini dirumuskan berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah juga.
Keteguhan para imam mazhab berpegang kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dapat kita lihat melalui perkataan dan hujah mereka sendiri. Umpamanya telah berkata Abu Hanifah rahimahullah:
Saya mengambil (hukum agama) dari kitab Allah (al-Qur’an); Apa yang saya tidak temui dalamnya, maka saya ambil dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika saya tidak temui dalam kitab Allah atau sunnah Rasulullah, nescaya saya ambil pula pendapat sahabat-sahabatnya.
Selain itu beliau juga pernah menegaskan:
Saya tidak menggunakan qiyas kecuali jika sangat mendesak; yaitu pertama-tama saya mencari dalil untuk sesuatu masalah dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, atau keputusan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kalau saya tidak temukan jawabannya maka saya qiyaskan kepada masalah yang tidak disebut di dalam nas itu dengan masalah yang disebutkan di dalam nas dengan benar-benar memperhatikan kesamaan illat (sebab) antara kedua-dua masalah itu. (Inilah yang dimaksudkan dengan kaedah “qiyas”.)
Malik bin Anas rahimahullah juga telah berkata:
Jauhilah pendapat orang-orang yang (mengeluarkan pendapat) berdasarkan akal fikiran kecuali jika sudah disepakati oleh para ulama’ (ijma’). Ikutilah al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu oleh Tuhan kamu dan ikutilah Hadis yang telah diturunkan kepadamu oleh Nabi kamu.
al-Syafi‘e rahimahullah menegaskan:
Menjadikan usul sebagai dasar pegangan adalah perbuatan orang-orang yang berakal dan usul itu tidak boleh dipertanyakan mengapa dan bagaimana. Kemudian bertanya seseorang: Apakah yang dimaksudkan dengan usul ? al-Syafi‘e menjawab: al-Qur’an, Hadis dan qiyas atas keduanya. Ditanya lagi kepada al-Syafi‘e berkenaan qiyas, lalu beliau menjawab: Qiyas hanya boleh dipergunakan ketika sangat mendesak dan tidak boleh mempergunakan qiyas kecuali untuk tujuan taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penyerahan diri yang sepenuhnya.
Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga tidak terlepas daripada berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Beliau mengecam keras ke atas orang-orang yang menggunakan akal fikiran dalam beragama dengan membelakangkan sumber wahyu al-Qur’an dan al-Sunnah. Beliau pernah berkata:
Saya tidak mengetahui orang-orang yang mengkaji kitab-kitab agama berdasarkan akal fikiran kecuali pada umumnya di hati mereka itu ada penyakit!
Demikian beberapa penegasan daripada para imam mazhab terdahulu berkenaan pegangan mereka kepada al-Qur’an dan al-Sunnah dan pesanan mereka supaya menjauhi akal fikiran dalam beragama. Justru itu kita dapati al-Sya’rani rahimahullah, setelah menguraikan bab ini setebal 56 mukasurat dalam kitabnya al-Mizan-ul-Kubra merumuskan:
Saudara, apa yang telah saya sebutkan itu sudah cukup untuk menjelaskan bahawa empat imam mazhab itu dan imam-imam mujtahid yang lain semuanya terikat dengan dalil-dalil yang mereka ambil dari al-Qur’an dan al-Sunnah; dan mereka semuanya menghindari dasar akal fikiran dalam berpendapat tentang masalah agama. Ketahuilah bahawa semua mazhab imam-imam mujtahid yang empat itu bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah !
Lebih dari itu ialah teguran Ibn Hazm rahimahullah, seorang ulama’ besar pada kurun ke 11M, dengan kata beliau:
Semua hukum yang telah digali oleh para imam mazhab adalah bersumber daripada syari‘at walaupun dalilnya tidak difahami oleh kalangan awam. Barangsiapa yang mengingkari hakikat ini bererti mereka mengganggap para imam mazhab tersebut telah terjerumus ke dalam kesalahan dan telah mensyari‘atkan hukum yang tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Anggapan yang sedemikian ini adalah sesuatu yang keliru lagi sesat. Yang benar adalah jika para imam mazhab itu tidak mengetahui dalilnya pasti mereka tidak akan mencetuskan sesuatu hukum (berkenaan masalah agama).
Walaupun merujuk sepenuhnya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, adakalanya para imam mazhab berbeda pendapat dalam mengeluarkan hukum. Perbedaan ini wujud bukan atas faktor kesengajaan tetapi karena beberapa faktor fitrah kemanusian dan sejarah yang sememangnya sukar untuk dielakkan pada zaman mereka.
Faktor-faktor ini akan diuraikan dalam bab seterusnya.
Bab ini diakhiri dengan sebuah keterangan yang bermanfaat daripada Ibn Taimiyah rahimahullah berkenaan para imam mazhab dan keutamaan mereka:
Sesungguhnya mereka, para imam mazhab adalah para Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam umatnya dan penghidup sunnahnya yang telah mati.
Dengan mereka Al-Qur’an tegak dan dengan Al-Qur’an mereka bangkit. Dengan mereka Al-Qur’an berbicara dan dengan Al-Qur’an mereka berbicara. Hendaklah diketahui bahwa tidak ada seorangpun dari para imam ini yang telah diterima umat secara meluas, (bertindak) sengaja menentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam masalah kecil ataupun besar.
Mereka sepakat tentang wajibnya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setiap orang boleh diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebab-Sebab Wujudnya Perbedaan Pendapat Antara Para Imam Mazhab
Ada beberapa perkataan dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah yang mempunyai lebih dari satu mak-sud. Daripada perkataan yang satu ini, ada yang memahaminya dengan satu maksud manakala ada yang memahaminya dengan maksud yang lain.
Satu soalan yang agak mengherankan: Kenapakah wujud perbedaan pendapat antara sesama para imam mazhab ? Kita semua sudah mengetahui bahawa ke semua para imam mazhab mendasarkan pendapat mereka kepada dalil Al-Qur’an dan al-Sunnah, justru mengapa wujud perbedaan ?
Sebenarnya perbedaan pendapat antara para imam mazhab bukanlah sesuatu yang besar sebagaimana yang kita sangkakan. Perbedaan mereka tidak lain hanyalah pada perkara-perkara kecil dan cabang bukannya asas dan usul sepertimana yang diterangkan oleh ‘Abd al-Rahman I. Doi:
Jika seseorang itu betul-betul memerhatikan ajaran fiqh keempat-empat mazhab Islam itu, dia tidak akan menemui sebarang perbedaan pendapat atau perbedaan ajaran dalam konteks prinsip-prinsip asas ajaran Islam sesama mereka. Perbedaan yang wujud hanyalah berkisar pada perkara-perkara furu’ (cabang) dan bukannya perkara-perkara usul (asas) keislaman.
Perbedaan furu’ dan bukan usul sebagaimana yang dinyatakan di atas diumpamakan oleh Abu Fath al-Bayanuni sebagai:
Satu jenis buah-buahan yang berasal dari sebatang pohon pokok; bukannya berjenis-jenis buah yang berasal dari berlainan pohon pokok. Batang pohon yang satu adalah kitab Allah dan Sunnah sementara ranting-rantingnya adalah dalil-dalil syara’ dan cara berfikir yang berjenis-jenis; manakala hasil buahnya pula adalah hukum fiqh yang sekian banyak dan bermacam-macam itu.
Bab ini insya-Allah akan coba mengupas dan menguraikan sebab-sebab berlakunya perbedaan pendapat antara para imam mazhab. Akan dibuktikan bahawa sebab-sebab tersebut bukanlah disengajakan oleh mereka tetapi ia adalah sesuatu yang sememangnya wujud disebabkan oleh faktor-faktor sejarah dan fitrah manusia. Akan dibuktikan juga bahwa perbedaan itu hanyalah dalam hal-hal furu’ (cabang) dan tidak melibatkan prinsip. Secara umumnya perbedaan ini timbul karena dua sebab yaitu:
Faktor kemanusiaan. Manusia dicipta dengan kebolehan yang berbeda-beda, sama ada secara fizikal atau mental. Perbedaan mental lebih tepat diertikan sebagai perbedaan seseorang itu menafsir sesuatu dalil Al-Qur’an dan al-Sunnah untuk mengeluarkan sebuah hukum. Ini hanya berlaku terhadap dalil yang bersifat umum sehingga memungkinkan pemahaman yang berbeda.
Faktor sejarah. Pada zaman para imam mazhab, tidak terdapat suasana yang memudahkan mereka untuk memperolehi hadis-hadis atau duduk bersama membicarakan sesuatu hal agama. Para imam mazhab terpaksa berhijrah ke sana sini di seluruh dunia Islam untuk mencari hadis-hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suasana ini ada hubung-kaitnya dengan hukum yang dikeluarkan oleh seseorang imam mazhab itu di mana setiap daripada mereka akan mengeluarkan pendapat berdasarkan hadis-hadis yang sempat mereka terima saja.
Kedua-dua faktor di atas akan diuraikan dengan lebih terperinci berikut ini:
Pertama: Satu dalil yang mempunyai beberapa maksud.
Ada beberapa perkataan dalam Al-Qur’an dan al-Sunnah yang mempunyai lebih dari satu maksud. Dalam kaedah usul fiqh, ianya dikenali sebagai Lafaz Musytarak. Daripada perkataan yang satu ini, ada yang memahaminya dengan satu maksud manakala ada yang memahaminya dengan maksud yang lain.
Contoh yang paling banyak dibicarakan ialah perkataan Quru’ dalam ayat:
Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (dari berkahwin) selama tiga kali suci. [al-Baqarah 2:228].
Quru’ mempunyai dua arti, yaitu haid atau suci; dan juga tempoh haid atau tempoh bersih dari haid. Dalam mengeluarkan hukum dari ayat di atas, para imam mazhab berbeda dalam memahaminya. Malik dan al-Syafi‘e berpendapat bahawa perkataan Quru’ mewakili tempoh bersih dari haid, manakala Abu Hanifah berpendapat ianya mewakili tempoh seseorang itu berada dalam haid. Ahmad dalam pendapatnya yang pertama mengatakan ‘Quru’ itu adalah masa suci kemudian dalam pendapatnya yang kedua mengatakan ia adalah masa dalam keadaan haid.
Dalam contoh ini kita dapat perhatikan bahwa walaupun merujuk kepada satu dalil yang sama, para imam mazhab mempunyai tafsiran hukum yang berbeda. Ini adalah karena sifat ayat Allah ‘Azza wa Jalla yang adakalanya mempunyai makna yang lebih dari satu.
Kedua: Satu dalil yang mempunyai makna hakiki atau kiasan.
Kadang kala sesuatu perkataan itu boleh juga mempunyai dua makna, satu makna yang sebenar dan satu makna yang tersembunyi atau kiasan. Dalam kaedah usul fiqh ini digelar sebagai Lafaz Hakiki dan Lafaz Majazi. Contoh yang selalu dibicarakan ialah hukum batal atau tidak wudhu’ apabila bersentuhan antara lelaki dan perempuan. Perbicaraan ini merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:
…atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air… [al-Nisaa’ 4:43 dan al-Maidah 5:06)
al-Syafi‘e pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Engkau lebih mengetahui akan hadis-hadis daripada aku. Oleh itu jika ada hadis yang sahih beritahulah aku sama ada hadis itu dari Kufah, Basrah atau Syria.”
Perkataan La-ma-sa boleh difahami secara hakiki yaitu bersentuhan dan boleh juga difahami secara majazi yaitu bersetubuh antara lelaki dan perempuan. Hikmah di sebalik penggunaan lafaz kiasan di dalam ayat ini ialah kerana Allah enggan menggunakan secara terus-terang perkataan yang mewakili sesuatu perbuatan yang mengurangkan kesopanan dan kemuliaan bahasa Al-Qur’an. Perkataan ‘bersetubuh’ adalah kurang sopan untuk digunakan dalam Al-Qur’an maka Allah menggunakan perkataan ‘bersentuhan’ sebagai alternatif lain.
Abu Hanifah dan al-Syafi‘e berpendapat wudhu’ seseorang itu batal apabila bersentuhan antara berlainan jenis berdasarkan ayat di atas. Malik dan Ahmad berpendapat wudhu’ seseorang yang bersentuhan kulit antara berlainan jenis hanya akan menjadi batal apabila timbulnya perasaan syahwat. Jika tidak ada syahwat maka tidaklah membatalkan wudhu’.
Di sini kita dapat juga melihat walaupun berdasarkan kepada dalil yang sama, para imam mazhab menafsirnya dengan cara yang berbeda, sesuai dengan keluasan ilmu masing-masing. Setiap mereka mempunyai hujahnya dan setiap mereka mempunyai kebenarannya.
Ketiga: Satu dalil yang tidak pasti maksudnya.
Ada segelintir kalimah Arab itu yang bersifat tidak pasti maksudnya. Contohnya ialah ayat berikut berkenaan wudhu’:
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sembahyang, maka (berwuduklah) yaitu basuhlah muka kamu, dan kedua belah tangan kamu hingga ke siku…..[al-Maidah 5:06]
Perkataan ilaa bermaksud hingga, oleh itu dalam ayat di atas adakah tangan dibasuh hingga ke siku atau juga termasuk siku ? Dalil yang satu di atas boleh mengeluarkan dua pendapat, membasuh tangan tidak termasuk siku dan juga membasuh tangan hendaklah termasuk siku.
Keempat: Penerimaan hadis yang berbeda.
Masalah ini sering berlaku karena setiap imam mazhab berfatwa berdasarkan hadis yang sempat mereka dengar atau temui. Hadis-hadis pada zaman para imam mazhab masih belum dihimpunkan secara sistematik. Para imam mazhab terpaksa mencarinya sendiri dengan berhijrah ke sana sini atau bertanya kepada yang lain. al-Syafi‘e pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal:
Engkau lebih mengetahui akan hadis-hadis daripada aku. Oleh itu jika ada hadis yang sahih beritahulah aku sama ada hadis itu dari Kufah, Basrah atau Syria. Beritahulah aku supaya aku dapat berpegang kepadanya asalkan ianya adalah sahih.
Contoh tidak sampainya hadis ialah berkenaan hukum Khamr (arak). Abu Hanifah berpendapat bahawa yang diharamkan oleh perkataan Khamr dalam hadis Rasulullah saw hanyalah minuman yang terbuat daripada buah anggur (wine).
Akan tetapi setelah kewafatan beliau, anak muridnya: Abu Yusuf telah menemui sebuah hadis sahih yang menyatakan bahawa semua minuman yang memabukkan itu adalah haram. Hadis tersebut berbunyi:
Setiap yang memabukkan itu adalah khamr dan setiap jenis khamr itu adalah haram.
Maka dengan itu beliau mengeluarkan fatwa baru bagi Mazhab Hanafi bahwa semua minuman yang memabukkan itu adalah haram tanpa terhad kepada yang berasal daripada buah anggur (wine).
Kelima: Beda pendapat terhadap kekuatan hadis.
Ada kalanya perbedaan wujud karena antara para imam mazhab, mereka berbeda dalam menilai sesuatu hadis itu, sama ada ianya sahih atau dhaif. Contohnya ialah hukum batal wudhu’ jika termuntah. Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal berpendapat muntah itu membatalkan wudhu’. Pendapat ini mereka dasarkan kepada hadis:
Barangsiapa yang muntah, hidung berdarah, atau makanan dari tenggoroknya keluar lagi atau keluar air madzi; hendaklah dia meninggalkan shalat, mengulangi wudhu’ dan kemudian menyambung shalatnya di mana dia tertinggal, tanpa bercakap di antaranya.
Walaubagaimanapun Malik dan al-Syafi‘e berpendapat riwayat di atas tidak sahih. Oleh itu mereka tidak mensyaratkan muntah sebagai sesuatu yang membatalkan wudhu’. Demikian beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan pendapat antara para imam mazhab.
Teladan Para Imam Mazhab Dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat
Perbedaan pendapat di kalangan para imam mazhab tidak pernah melebihi daripada apa yang sepatutnya. Perbedaan ini tidak bersangkutan dengan sifat taksub, sombong diri, hasad dan apa-apa lain penyakit hati. Para imam mazhab tidak pernah mempunyai tujuan yang lain dalam usaha mereka kecuali mengajar serta menegakkan agama Islam kepada umat.
Perbedaan pendapat antara mazhab juga tidak menjadi faktor penghalang untuk shalat bersama-sama. Apabila tiba saja musim Haji, semua umat Islam tidak kira sama ada para imam mazhab atau murid mereka atau pengikut mereka akan turun ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan amalan haji.
Justru jika kita kaji sejarah dan riwayat hidup mereka, kita akan dapati sifat bertolak-ansur dan terbuka yang amat tinggi di antara mereka. Mereka menerima teguran dengan hati yang terbuka, membetulkan ajaran yang tersilap, menghormati antara satu sama lain dan saling membanding ajaran sesama mereka. Menekan tidak, bukankah para imam mazhab itu pada mulanya duduk berguru sesama mereka, mengasaskan ajaran daripada sumber yang sama dan mempunyai tujuan yang sama ?
Pernah sekali Malik bin Anas ditanya adakah perlu membasuh jari-jari kaki ketika berwudhu’. Beliau menjawab “Itu tidak perlu”. Setelah berakhirnya majlis kuliah tersebut, seorang anak murid Malik, bernama Ibn Wahhab berkata “Aku mengetahui akan suatu hadis berkenaan soalan tadi.”
Bertanya Malik: “Hadis apakah itu ?”
Ibn Wahhab berkata: “Laits ibn Sa‘ad, Ibn Luhai‘ah dan ‘Amr bin al-Harits meriwayatkan dari jalan Yazid bin ‘Amr, dari Mustawrid bin Shaddad; di mana mereka telah berkata: ‘Kami melihat Rasulullah menggosok antara jari-jari kakinya ketika berwudhu dengan anak jarinya’.”
Berkata Malik: “Riwayat ini adalah sahih. Aku tidak pernah mendengarnya hingga seketika tadi.”
Ibn Wahhab seterusnya menerangkan bahawa Malik kemudian mengajar orang ramai untuk menggosok jari-jari kaki mereka apabila berwudhu’. Demikian satu contoh daripada Malik, apabila dia mendengar suatu hadis dan dikenali sanadnya berdarjat sahih, dia terus membetulkan ajarannya.
Ahmad bin Hanbal pada awalnya berpendapat bahawa perkataan quru’ dalam ayat:
Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (dari berkawin) selama tiga kali suci (quru’). [Maksud surah al-Baqarah 2:228] bermaksud bersih dari haid. Kemudian apabila dia menemui sebuah hadis di mana Rasulullah saw diriwayatkan telah berkata kepada Fatimah binti Hubaisy radhiallahu ‘anha: Tinggalkanlah shalat pada masa quru’-mu, Ahmad telah membetulkan pendapatnya yang awal dengan berkata:
Aku pada mulanya mengatakan bahawa quru’ itu ialah suci (dari haid), sekarang aku berpendapat bahawa quru’ itu ialah haid dan bukan suci (dari haid).
Dalam kesungguhan mencari hadis pada zaman mereka, para imam mazhab saling bertanya dan berkongsi hadis sesama mereka. Contoh paling baik ialah pesanan al-Syafi‘e kepada Ahmad bin Hanbal:
Engkau lebih mengetahui akan hadis-hadis daripada aku. Oleh itu jika ada hadis yang sahih, beritahulah aku, sama ada hadis itu dari Kufah, Basrah atau Syria. Beritahulah aku supaya aku dapat berpegang kepadanya asalkan ia adalah sahih.
Teladan lain yang tidak boleh kita lupakan ialah kisah al-Syafi‘e yang mengimami shalat subuh di masjid berhampiran kubur Abu Hanifah. Beliau shalat tanpa membaca doa qunut dan apabila ditanya seseorang sehabis shalat al-Syafi‘e menjawab:
Masakan aku hendak melakukan sesuatu yang berlainan dari apa yang diajar olehnya (Abu Hanifah) padahal aku berada berhampirannya.
Walaupun pada asalnya al-Syafi‘e berpendapat bahawa doa qunut itu sunat dibaca dalam shalat subuh tetapi pendapatnya itu dikebelakangkan sebagai menghormati Abu Hanifah yang berpendapat doa qunut itu tidak sunat dibaca. Disamping itu al-Syafi‘e juga tidak berqunut pada pagi itu bagi memudahkan jamaahnya yang mayoriti pada ketika itu adalah pengikut Abu Hanifah.
Ahmad bin Hanbal berpendapat bahawa pendarahan hidung membatalkan wudhu’ dan dengan itu ia membatalkan shalat manakala Malik bin Anas pula berpendapat ianya tidak membatalkan. Akan tetapi apabila Ahmad ditanya tentang apakah hukumnya seseorang yang bershalat di belakang imam yang tidak memperbaharui wudhu’nya ketika mengalami pendarahan hidung, Ahmad berkata:
Apakah patut aku enggan bershalat di belakang Malik dan Sa‘id ibn al-Musayyib ?
Jawaban Ahmad ini menunjukkan sifat keterbukaannya yang tidak membataskan seseorang itu untuk mengikut pendapatnya saja. Yang bertanya itu boleh shalat di belakang mana-mana imam sekalipun pendapat sesama mereka tentang perkara yang membatalkan wudhu’ dan shalat adalah tidak sama.
Para imam mazhab sendiri ada kalanya mengubah pendapat dan amalan mereka kepada pendapat imam yang lain. Tidak timbul konsep “Itu mazhab dia, ini mazhab aku!”
Perbedaan pendapat antara mazhab juga tidak menjadi faktor penghalang untuk shalat bersama-sama. Apabila tiba musim Haji, semua umat Islam tidak kira sama ada para imam mazhab atau murid mereka atau pengikut mereka akan turun ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan amalan haji. Abu Hanifah dan anak muridnya dari Kufah, al-Syafi‘e dan anak muridnya dari Mesir serta Yaman, Ahmad dan anak muridnya dari Baghdad, dan ramai lagi dari serata pelusuk dunia Islam datang ke Mekah dan Madinah dan shalat berjamaah di belakang Malik bin Anas dan anak muridnya tanpa sebarang keberatan. Malik berpendapat bacaan Basmalah tidak dibaca secara kuat di dalam shalat ketika membaca al-Fatihah manakala Abu Hanifah dan al-Syafi‘e berpendapat ianya dibaca secara kuat. Namun hal ini tidak menghalang mereka shalat bersama-sama.
Selain itu pemerintah Islam ketika itu, Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pernah membuat keputusan untuk menjadikan kitab hadis Malik bin Anas, al-Muwattha’, sebagai kitab yang resmi bagi seluruh empayar Islam Dinasti Abbasid. Akan tetapi Malik menolak keputusan itu dengan berkata:
Sesungguhnya umat Islam merata-rata berpegang dan berpengetahuan dengan hadis dan riwayat yang mungkin kami (Malik) sendiri tidak mengetahuinya.
Jawaban Malik membuktikan bahwa dia tahu ada banyak lagi hadis-hadis yang tidak sempat diriwayatkannya dan lebih utama lagi, dia tidak mau memaksa orang ramai menerima ‘mazhab’nya tanpa pilihan lain.
Riwayat hidup al-Syafi‘e juga terkenal dengan apa yang digelar sebagai qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim merupakan pendapat al-Syafi‘e yang awal ketika berada di Semenanjung Arab. Akan tetapi setelah dia berhijrah ke Iraq dan Mesir, dia telah berjaya menemui sejumlah hadis-hadis yang lain yang membuatkan dia membetul dan menyelaraskan semula ajarannya yang terdahulu. Pembetulannya ini beliau lakukan tanpa malu-malu, hingga terkenal dalam sejarah sebagai Qaul jadid.
Demikianlah beberapa contoh yang sempat dikemukakan untuk dijadikan teladan untuk kita bermazhab. Daripada contoh-contoh di atas, boleh kita simpulkan:
Para imam mazhab membetulkan ajaran mereka serta-merta apabila terbukti salah tanpa sebarang sikap ragu-ragu atau keberatan.
Para imam mazhab saling hormat menghormati antara satu sama lain. Mereka menghormati ketinggian ilmu serta pendapat di kalangan mereka.
Para imam mazhab sendiri ada kalanya mengubah pendapat dan amalan mereka kepada pendapat imam yang lain. Tidak timbul konsep “Itu mazhab dia, ini mazhab aku!”
Para imam mazhab tidak memaksa umat Islam untuk mentaati ajaran mereka, malah mereka sendiri yang mengesyorkan agar umat Islam memilih dan mengambil apa yang terbaik.
Para imam mazhab tidak pernah memaksa umat Islam untuk bermazhab ataupun mengikuti mana-mana mazhab. Setiap individu bebas beramal dengan ilmu yang diterima masing-masing.
Para imam mazhab tidak pernah berhenti daripada mencari dan mengkaji ilmu. Usaha mereka diteruskan sehingga ke akhir hayat, membetulkan mana yang salah dan mengajar apa yang baru. Ini dilakukan secara terbuka tanpa bersembunyi atau berdiam diri.
Para imam mazhab tidak mementingkan maruah dan kepentingan diri. Bagi mereka apa yang benar, itulah yang diperjuangkan.
Harapnya teladan-teladan yang ditunjukkan oleh para imam mazhab di atas dapat dijadikan pegangan dan iktibar oleh kita. Bagi mereka apa yang benar ialah ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari dua sumber inilah mereka mengupas segala hukum dan ajaran untuk kebaikan umat Islam sendiri. Adakalanya mereka tersilap atau kurang tepat tetapi mereka menerima hakikat tersebut dengan sering berunding dan bertukar pendapat sesama mereka.
Sikap yang demikian perlu kita ambil dan praktikkan. Bukannya sikap membeda-beda antara sesama mazhab, membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain.
Sikap Taksub Mazhab
Beberapa Contoh Sikap Taksub Mazhab
Sikap taksub mazhab juga boleh menye-babkan para pengikut sesebuah mazhab sanggup mencipta hadis-hadis palsu bagi membenarkan mazhab sendiri.
Dalam bab sebelumnya kita telah dapat mengetahui beberapa sifat terbuka para imam mazhab apabila menghadapi perbedaan dalam pendapat mereka. Sifat yang mulia ini malangnya tidak diteladani oleh sebahagian umat Islam. Mereka dengan semampu boleh mempertahankan kebenaran mazhab mereka, bukan saja dari sudut ilmiah tetapi juga dari sudut politik, keturunan dan sebagainya.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh dari sikap taksub mazhab yang pernah dan sedang dialami oleh dunia Islam masa kini. Tujuannya ialah untuk menyadarkan kita akan kekerdilan fikiran sesetengah pihak sehingga menyebabkan timbulnya perselisihan yang besar daripada satu perkara yang asalnya tidak berselisih.
Contoh Pertama:
Suasana taksub bermazhab yang paling jelas ialah apabila jamaah yang melaksanakan shalat fardhu dibahagikan kepada 4 kumpulan di Masjid al-Haram. Perkara ini berlaku sebelum tahun 1342H/1924M. Lebih menyedihkan, suasana begini berlaku di hadapan Ka’bah padahal Ka’bah itu sendiri merupakan binaan yang mengisyaratkan persatuan umat Islam.
Suasana sebegini masih berlaku di beberapa masjid yang lain di negara yang rakyatnya mengikuti lebih dari satu mazhab. Ini sebagaimana yang diterangkan oleh al-Albani rahimahullah tentang apa yang berlaku di Syria:
Adakalanya didapati sebahagian jemaah itu masih menunggu kedatangan imam mazhab mereka padahal di sebelah mereka jamaah mazhab lain sudahpun memulakan shalat bersama imam mereka. Mereka enggan berjamaah bersama di belakang satu imam hanya kerana perbedaan mazhab. Mereka berpendapat shalat imam mazhab lain diragu-ragukan dan boleh dipersoalkan, malah ada yang mengatakan ianya tidak sah.
Contoh Kedua:
Contoh yang lain ialah berkenaan membaca doa qunut dalam shalat Subuh. Dalam Mazhab al-Syafi‘e, membaca doa qunut dihukum sunat manakala dalam mazhab Hanafi dan Hambali ianya tidak sunat.
Dalam menghadapi suasana perbedaan seperti ini, segelintir ulama’ al-Syafi‘ sembahyang berfatwa bahwa seorang jamaah mazhab al-Syafi‘e wajib melakukan sujud sahwi di akhir shalat subuhnya apabila dia menjadi makmum kepada seorang imam dari mazhab lain yang tidak membaca doa qunut. Di samping itu ada pula yang memfatwakan bahwa seorang jamaah mazhab al-Syafi‘e yang menjadi makmum di belakang imam mazhab lain yang tidak membaca doa qunut boleh mengangkat tangannya membaca doa qunut subuh selagi sempat ketika imam tersebut sedang iktidal maupun sedang turun ke posisi sujud.
Kedua-dua fatwa di atas jelas merupakan sesuatu yang dikeluarkan karena sikap taksub kepada mazhab. Ia jelas menyalahi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan bahawa imam itu adalah untuk diikuti oleh jamaah dalam setiap perlakuannya. Perintah baginda:
Sesungguhnya dijadikan seorang imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kamu berbeda dengannya. Maka apabila (dia) rukuk maka rukuklah, apabila dia membaca “Sami Allahuliman Hamidah” maka bacalah “Rabbana lakalhamdu”. Dan apabila (dia) sujud maka sujudlah dan apabila (dia) shalat duduk maka bershalatlah kamu semua dengan cara duduk.
Fatwa dan pendapat di atas juga menyalahi contoh yang ditunjukkan oleh al-Syafi‘e sendiri di mana dalam satu riwayat yang terkenal, beliau telah mengimami shalat subuh bersama ahli jamaah mazhab Hanafi tanpa berqunut. Apabila ditanya kenapa dia tidak berqunut, al-Syafi‘e menjawab bahwa ia adalah sebagai menghormati Abu Hanifah.
Contoh Ketiga:
Sikap taksub mazhab tidak terhad kepada persoalan ibadah saja. Ia juga melibatkan perkara-perkara lain seperti keturunan, politik dan kehidupan harian. Sebahagian pihak dalam Mazhab al-Syafi‘e pernah mengagungkan Muhammad bin Idris al-Syafi‘e rahimahullah sehingga menghina para imam mazhab lain dengan alasan sebuah hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Para pemimpin (mestilah) daripada (keturunan) Quraish.
Berdasarkan hadis ini mereka berkata:
Kita tidak dapati di kalangan imam-imam mujtahid (para imam mazhab) yang berketurunan Quraish selain Imam al-Syafi‘e.
Sedangkan Imam Abu Hanifah berketurunan bekas hamba, Imam Malik bin Anas daripada qabilah Zi-Asbah, Imam an-Nakha‘e daripada qabilah Nakha’ al-Yaman. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Muhammad al-Hassan, keduanya dari Bani Syabani dan bukannya dari Mudhar. Imam al-Tsauri berasal dari Bani Thaur dan Imam al-Awza‘e pula juga dari bekas keturunan hamba.
Sikap taksub mazhab oleh golongan di atas menyebabkan mata hati mereka tertutup daripada ayat Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang menyatakan bahwa sebaik-baik manusia bukanlah berdasarkan keturunan atau bangsa akan tetapi ketaqwaannya kepada Allah. Firman Allah:
Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal. [Al-Hujurat 49:13]
Adapun maksud sebenar hadis “Para pemimpin (mestilah) daripada (keturunan) Quraish” ialah bahwa sesuatu negara atau komuniti Islam itu seharusnya memilih pemimpin mereka daripada kalangan kaum atau bani yang mayoriti jumlahnya dan besar pengaruhnya supaya kepimpinan rakyat lebih teratur dan baik. Sebaliknya jika pimpinan dipegang oleh pihak minoriti ia akan membawa kekecohan di kalangan orang ramai.
Bani Quraish disebut dalam hadis ini karena merekalah kumpulan terbesar dan terpengaruh di Semenanjung Arab pada ketika itu. Akan tetapi hadis ini tidaklah membatasi Bani Quraish saja karena mereka sebenarnya hanya sebagai kaum minoriti berbanding dengan dunia Islam yang kini menjangkau jumlah 1 billion umatnya. Hadis ini juga lebih khusus kepada persoalan pimpinan duniawi tidak dalam persoalan pimpinan agama karena banyak dalil-dalil lain yang menyatakan bahwa hal agama tiada bersangkut paut dengan keturunan dan bangsa.
Contoh Keempat:
Sikap taksub mazhab juga boleh menyebabkan para pengikut sesebuah mazhab sanggup mencipta hadis-hadis palsu bagi membenarkan mazhab sendiri. Contohnya ialah hadis berikut yang dicipta oleh pengikut Mazhab Hanafi yang bencikan Mazhab al-Syafi‘e bahwa kononnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada berkata:
Akan muncul di kalangan umat aku seseorang yang bernama Muhammad bin Idris (al-Syafi‘e) yang akan mendatangkan kerusakan kepada umatku lebih buruk daripada Iblis dan akan muncul pula di kalangan umat aku seorang lelaki bernama Abu Hanifah yang akan menjadi cahaya penyuluh umat aku.
Riwayat palsu ini dikenal pasti oleh Ibn al-Jawzi dalam kitabnya al-Maudu‘at, jld. 1, ms. 457 dan diutarakan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadis al-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah, no: 570.
Pengikut Mazhab al-Syafi‘e juga tidak kurang hebatnya dengan mencipta sebuah hadis lain bagi menentang Mazhab Hanafi. Diketahui bahwa bagi Mazhab Hanafi disunatkan mengangkat tangan ketika membaca takbir bagi setiap pergerakan rukun shalat manakala bagi Mazhab al-Syafi‘e mereka tidak menyunatkannya. Oleh itu pengikut Mazhab al-Syafi‘e telah mencipta suatu hadis bahawa kononnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata:
Sesiapa yang mengangkat tangan ketika shalat maka tiadalah shalat itu baginya (yaitu tidak sah).
Riwayat ini juga telah dinyatakan kepalsuannya oleh beberapa tokoh hadis seperti Ibn al-Qayyim, al-Dzahabi dan lain-lain sebagaimana terang al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadis al-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah, no: 568.
Demikian empat contoh yang sempat dikemukakan tentang sikap taksub sebahagian pengikut mazhab.
Sikap taksub sebegini timbul hanya karena ikutan mereka kepada tuntutan nafsu lalu mereka mengunggulkan imam serta mazhab mereka kepada kedudukan yang terbaik. Pada waktu yang sama mereka menghina imam dan mazhab yang lain padahal pengunggulan dan penghinaan mereka hanyalah berdasarkan anggapan semata-mata, bukan berdasarkan kajian dan perbandingan ilmiah. Seandainya dilakukan kajian dan perbandingan ilmiah, pasti mereka akan menyadari bahwa semua para imam dan mazhab fiqh Islam adalah baik. Sikap taksub sebegini akhirnya akan membawa kepada perdebatan, pergaduhan dan perpecahan kepada umat Islam. Ibn Taimiyyah rahimahullah mengulas fenomena ini:
Adapun mengunggulkan sebahagian imam atau syaikh di atas sebahagian yang lain seperti orang-orang yang mengunggulkan imam mazhab mereka sebagai yang paling faqih atau yang mengunggulkan syaikh mereka sebagai sebaik-baik pembimbing di atas selainnya, sepertimana sebahagian orang yang mengunggulkan al-Syaikh ‘Abd al-Qadir (al-Jailani) atau al-Syaikh Abu Madyan atau (al-Imam) Ahmad (bin Hanbal) atau selain mereka, maka kebanyakan manusia di dalam hal ini berbicara tentangnya berdasarkan sangkaan dan kecintaan yang berlebih-lebihan.
Sesungguhnya mereka tidak mengetahui hakikat sebenar akan martabat para imam dan syaikh tersebut maupun bermaksud mengikuti mereka karena kebenaran yang sebenar-benarnya. Akan tetapi setiap mereka hanya mengikut nafsu dengan mengunggulkan tokoh ikutan mereka dengan pengunggulan yang merupakan anggapan demi anggapan semata-mata.
Mereka tidak memiliki apa-apa bukti bagi anggapan tersebut. Sikap seperti inilah yang sering kali menyebabkan perdebatan, pergaduhan dan perpecahan di antara mereka. Ini semua diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.
Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara.
Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah) lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keterangan-Nya supaya kamu mendapat petunjuk hidayah-Nya.
Dan hendaklah ada di antara kamu satu kumpulan yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya.
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisihan (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah), Dan mereka yang bersifat demikian, akan beroleh azab seksa yang besar”. [‘Ali Imran 3:102-105]
Oleh itu yang benar, semua mazhab dan para imamnya adalah baik. Orang yang mencenderungi satu mazhab, sebagaimana ulas Ibn Taimiyyah, tidak boleh mengkritik mazhab yang lain dan begitulah sebaliknya. Beliau rahimahullah menulis:
Maka sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) al-Syafi‘e tidak boleh mengingkari sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) Maliki dan sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) Ahmad tidak boleh mengingkari sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) al-Syafi‘e dan begitulah seterusnya.
Sikap taksub hanya dibolehkan dalam satu perkara, yaitu dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya.
Mudah-mudahan kita semua mendapat rahmatNya Insya Allah.
AAMIIN YAA RABBAL AALAMI…N
